Archive Page 2

KONTRIBUSI KONSEPSI PSIKOLOGI BEHAVIORISME TERHADAP PERKEMBANGAN TEORI ILMU KOMUNIKASI

KONTRIBUSI KONSEPSI PSIKOLOGI BEHAVIORISME TERHADAP PERKEMBANGAN TEORI ILMU KOMUNIKASI

Slamet Mulyana

Pengantar

“Ilmu komunikasi ibarat oasis, yang menjadi persimpangan jalan dan tempat perjumpaan berbagai ilmu (musafir) dalam perjalanan ke tujuan keilmuannya masing-masing. Walaupun sebagian musafir itu sekedar mampir sebentar, ilmu yang dikembangkannya pada saat mampir itu membantu pertumbuhan ilmu si musafir dan memperkaya oasis tersebut“ demikian kata Wilbur Schramm, salah seorang Bapak Ilmu Komunikasi (Dahlan, 1996). Komunikasi adalah suatu ilmu yang cakupannya luas dan perlintasan ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, linguistik, ilmu politik, dan sebagainya.

Kenyataan tersebut menyebabkan banyak teori-teori komunikasi yang sebenarnya ‘dipinjam’ dari berbagai disiplin ilmu lain. Fakta bahwa sejauh ini ilmu komunikasi belum menghasilkan teori-teori besar (grand theories), seperti sosiologi atau psikologi, dianggap sebagai kelemahan ilmu komunikasi oleh sebagian pengamat. Namun, sebagian pengamat lain menegaskan justru di situ pulalah kekuatannya (Mulyana, 1999). Kenyataan bahwa ilmu komunikasi bersifat multidisipliner dan merupakan ilmu yang relatif baru tidak membuat membuat ‘rendah diri’ para pakar ilmu komunikasi, karena hal itu menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan ilmu komunikasi sejajar dengan ilmu-ilmu sosial yang lain.

Menurut Rakhmat (2001), banyak teori dalam ilmu komunikasi dilatarbelakangi konsepsi‑konsepsi psikologi tentang manusia. Paling tidak, ada empat teori psikologi yang paling dominan yang dianggap sebagai akar dari teori komunikasi, yaitu Psikoanalisis, Behaviorisme, Psikologi Kognitif, dan Psikologi Humanistis.

Setiap pendekatan (konsepsi) tersebut memandang manusia dengan cara yang berlainan, yang akan mempengaruhi pandangannya tentang karakteristik manusia sebagai pelaku utama komunikasi. Dalam tulisan ini akan dibahas konsepsi behaviorisme, yang pada dasarnya melihat manusia sebagai Homo Mechanicus (makhluk yang digerakkan semaunya oleh lingkungan)

Secara umum, pembahasan materi dalam tulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran singkat tentang kontribusi pandangan (konsepsi) Psikologi Behaviorisme terhadap perkembangan teori dalam Ilmu Komunikasi, dalam tulisan ini dibahas pemahaman singkat tentang perkembangan konsepsi psikologi behaviorisme, yang mencakup perkembangan pemikirannya sekaligus tokoh-tokohnya. Selanjutnya dibicarakan kontribusi behaviorisme dalam konteks komunikasi interpersonal dan komunikasi massa.

Sejarah Singkat Mahzab Behaviorisme

Dalam perkembangan Psikologi, yang mendapat sebutan mazhab ‘kedua’ adalah karya para ahli yang berhu­bungan dengan teori Behaviorisme. Teori yang bersifat umum ini dirumuskan oleh John B. Watson (1878-1958) tepat pada peralihan abad ini. Saat itu, Watson adalah seorang guru besar psikologi di Universitas Johns Hopkins. la berupaya menjadikan studi tentang manusia seobjektif dan seilmiah mungkin, karenanya seperti Sigmund Freud, ia berusaha mereduksikan tingkah laku manusia menjadi perkara kimiawi dan fisik semata.

Kini kata ‘behaviorisme’ biasanya digunakan untuk melukiskan isi sejumlah teori yang saling berhubungan di bi­dang psikologi, sosiologi dan ilmu‑ilmu tingkah laku meliputi bukan hanya karya John Watson, melainkan juga karya to­koh‑tokoh seperti Edward Thorndike, Clark Hull, John Dol­lard, Neal Miller, B.F. Skinner, dan masih banyak lagi. Para pendahulu aliran pemikiran ini adalah Isaac Newton, yang berhasil mengembangkan metode ilmiah di bidang ilmu‑ilmu fisik, dan Charles Darwin, yang menyatakan bahwa manusia merupakan hasil proses evolusi secara kebetulan dari bina­tang‑binatang yang lebih rendah.

Behaviorisme amat banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen. Walaupun Watson sering dianggap tokoh utama aliran ini, tetapi sebenarnya perkembangannya dapat dilacak sampai kepada empirisisme dan hedonisme pada abad XVIII – XVIII.

Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, ibarat sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari Aristoteles, John Locke (1632 ‑ 1704), tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini. Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman satu‑satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Bukanlah ide yang menghasilkan pengetahuan, tetapi keduanya adalah produk pengalaman. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan, bukan penyebab perilaku tetapi disebabkan perilaku masa lalu.

Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme dan juga psikoanalisis. Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin(Homo Mechanicus).

Teori Freud dikembangkan terutama dengan mendengarkan para pasiennya dan dari hasil interpretasi subjektif­nya atas aneka neurosis para pasiennya itu. Sebaliknya, kaum Behavioris memusatkan diri pada pendekatan ‘ilmiah’ yang sungguh‑sungguh objektif. Lagi pula, Freud menempatkan rangsangan‑rangsangan dan dorongan‑dorongan dalam seba­gai sumber motivasi, sementara kaum Behavioris menekankan kekuatan‑kekuatan luar yang berasal dari lingkungan. Dalam teori mereka segala yang berbau subjektif sama sekali diabaikan. Menurut Watson, “Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian terse­but dirumuskan secara subjektif”.

Mekanisme Belajar

Secara umum terdapat tiga mekanisme yang biasa terjadi dalam belajar. Ketiga mekanisme itu adalah :

· Mekanisme belajar yang pertama adalah Asosiasi.

Anjing Pavlov be­lajar mengeluarkan air liur pada saat mendengar garpu tala berbunyi karena sebelumnya disajikan daging setiap saat terdengar bunyi. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila mendengar bunyi garpu tala meskipun tidak disajikan daging, karena anjing itu mengasosiasikan bel dengan daging. Kita belajar berperilaku dengan asosiasi. Misalnya, kata “Nazi” biasanya diasosiasikan dengan kejahatan mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena kita telah belajar mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan.

· Mekanisme belajar kedua adalah reinforcement.

Orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar membalas penghinaan yang diterimanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak‑haknya. Atau seorang mahasiswa mungkin belajar untuk tidak menentang sang profesor dikelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, nampak marah, dan membentaknya kembali.

· Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah imitasi.

Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu. Anak-anak dan remaja mungkin menentukan sikap politik mereka dengan meniru pembicaraan orang tua mereka pembicaraan orang tua mereka selama kampanye pemilihan. Imitasi bisa terjadi tanpa adanya reinforcement eksternal, hanya melalui observasi biasa terhadap model.

Kaum Behavioris sangat mengagungkan proses belajar asosiatif atau proses belajar asosiatif stimuslus respon ini sebagai pen­jelasan terpenting tentang tingkah laku manusia. Perbedaan antara teori Freud, yang memberi tekanan pada dorongan dari dalam pada manusia, dengan keyakinan kaum Behavioris pada kekuatan‑kekuatan “luar” atau kekuatan‑kekuatan dari lingkungan dalam diri manusia dapat dilihat dengan jelas

Salah satu asumsi dasarnya mengatakan bahwa kesusilaan sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah. Maka kaum Behavioris menganut paham relativisme budaya dan moral. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya. Seorang Behavioris tidak menaruh minat pada soal‑soal budaya dan moral kecuali bahwa ia adalah seorang ilmuwan. Tak peduli, manusia macam apapun. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya.”

Tahun‑tahun awal kehidupan seseorang merupakan tahun‑tahun yang penting mengenai soal yang satu ini sebenar­nya semua aliran psikologi sependapat. Dari sini muncul imbauan agar para orang tua bersikap serba membolehkan, serba memuaskan dan tidak menuntut terhadap anak‑anak selama tahun‑tahun awal kehidupan mereka, khususnya da­lam soal‑soal menyuapi, melatih kebersihan, memberi pendi­dikan awal di bidang seksualitas, dan menanamkan cara me­ngendalikan amarah serta agresi. Setiap bentuk frustrasi pada masa ini dipandang dapat melahirkan kecenderungan ke arah neurosis di masa dewasa.

Sejak dari Thorndike dan Watson sampai sekarang, kaum behavioris berpendirian: organisme dilahirkan tanpa sifat‑sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku, menyiratkan betapa elastisnya manusia. la mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Dalam bukunya yang memikat tentang sejarah pemikir­an‑pemikiran di dunia, The Broken Image, Floyd W. Matson mengutip kata-kata Watson sebagai berikut:

“Pendek kata, semboyan kaum Behavioris adalah Berilah saya seorang bayi dan kekuasaan serta keluasaan untuk membesarkannya, maka saya buat ia mampu merangkak dan berjalan; akan saya buat ia mampu memanjat dan menggunakan kedua belah tangannya untuk mendirikan. bangunan‑bangunan dari batu atau kayu akan saya jadikan pencuri, penembak atau, pecandu narkotika atau kemungkinan untuk membentuk, seseorang ke segala arah tiada hampir tidak ada batasnya.”

<!–[if supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

John Watson, Tokoh Utama Behaviorisme

John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar PhD pada tahun 1903 dengan disertasi ber udul “Animal Education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.

Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalarn psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun 1920‑1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen.

John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as the Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson dalarn beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan‑penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saj a. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode­metode obyektif dalam psikologi.

Peran Watson dalam bidangpendidikanjugacukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat‑sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: “Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya.”

<!–[if supportFields]><![endif]–>

Ucapan Watson ini dibuktikan dengan suatu eksperimen bersama Rosalie Rayner di John Hopkins, tujuannya menimbulkan dan menghilangkan rasa takut. Eksperimen Albert dengan tikus putih kesayangannya bukan saja membuktikan betapa mudahnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning). Diambil dari Sechenov (1829 ‑ 1905) dan Pavlov (1849‑ 1936), pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi (tikus putih) dengan stimuli tertentu (yang tak terkondisikan ‑ unconditioned stimulus) yang melahirkan perilaku tertentu (unconditioned response). Setelah pemasangan ini terjadi berulang‑ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Dalam eksperimen di atas, tikus yang netral berubah mendatangkan rasa takut setelah setiap kehadiran tikus, dilakukan pemukulan batangan baja (unconditioned stimulus).

F. Skinner, seorang psikolog dari Harvard dan penganjur serta pemimpin tradisi Behavioris masa kini, berkata, “Satu‑satunya perbedaan antara tingkah laku tikus dan ting­kah laku manusia yang mungkin saya saksikan (terlepas dari beda yang amat besar dalam hal kompleksitasnya) terletak dalam soal tingkah laku verbal. Karena percaya akan ke­samaan hakiki antara manusia dan binatang, untuk mudah­nya, dan demi alasan‑alasan objektivitas, para psikolog Be­havioris mendasarkan sebagian besar karya mereka pada percobaan‑percobaan dengan menggunakan binatang.

Etika, moral, dan nilai‑nilai hanyalah hasil proses belajar asosiatif. “Suatu analisis ilmiah akan memaksa kita menolak segala pesona jangka pendek berupa kebebasan, keadilan, pengetahuan ataupun kebahagiaan da­lam menatap akibat‑akibat jangka panjang kelangsungan hidup”, kata Skinner.

Skinner menambahkan jenis pelaziman yang lain. Ia menyebutnya sebagai operant conditioning. Kali ini subjeknya burung merpati. Skinner menyimpannya pada sebuah kotak (yang dapat diamati). Merpati disuruhnya bergerak sekehendaknya. Satu saat kakinya menyentuh tombol kecil pada dinding kotak. Makanan ke luar dan merpati bahagia. Mula‑mula merpati tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dengan datangnya makanan. Sejenak kemudian merpati tidak sengaja menyentuh tombol, dan makanan turun lagi. Sekarang bila merpati ingin makan, ia mendekati dinding dan menyentuh tombol. Sikap manusia seperti itu pula. Bila setiap anak menyebut kata dengan sopan, segera kita memujinya, anak itu. kelak akan mencintai kata‑kata sopan dalam komunikasinya. Proses memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali‑kali, disebut peneguhan (reinforcement). Pujian dalam hal ini disebut dengan peneguh (reinforcer).

Beberapa Teori Dalam Psikologi Behaviorisme

Selama beberapa tahun, pendekatan yang do­minan dalam psikologi sosial di Amerika Serikat dan Kanada menekankan peranan belajar. Pokok pikirannya adalah bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu, seseorang mempelajari perilaku tertentu sebagai kebia­saan, dan bila menghadapi situasi itu kembali, orang tersebut akan cenderung berperilaku sesuai dengan kebiasaan itu. Bila seseorang mengulurkan tangan maka kita akan menja­batnya, karena itulah yang telah kita pela­jari untuk menanggapi uluran tangan itu. Bila seseorang mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada kita, mungkin kita akan membalasnya atau mungkin kita akan mela­kukan hal yang sam pada orang lain, tergan­tung pada apa yang telah kita pelajari di ma­sa lampau.

Pendekatan dengan belajar menjadi populer di tahun 1920‑an dan merupakan da­sar Behaviorisme. Mula‑mula Pavlov dan John B. Watson yang menjadi pendukungnya yang pa­ling terkenal, yang kemudian diteruskan oleh Clark Hull dan B.F. Skinner, Neal Miller, dan John Dollard menerapkan prinsip-prinsip belajar pada perilaku sosial, dan kemudian Albert Bandura memperluas penerapan ini ke dalam suatu pendekatan yang disebut Social Learning Theory.

a. Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)

Dapat dikatakan bahwa pelopor dari teori Conditioning ini adalah Pavlov, seorang ahli psikologi‑refleksologi dari Rusia. Ia mengadakan percobaan‑percobaan dengan anjing. Sesudah Pavlov, banyak ahli‑ahli psikologi lain yang mengadakan percobaan‑percobaan dengan binatang, antara lain Guthrie, Skinner, Watson dan lain‑lain.

Watson mengadakan eksperimen‑eksperimen tentang perasaan takut pada anak dengan menggunakan tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah atau dilatih. Anak percobaan Watson yang mula‑mula tidak takut kepada kelinci dibuat menjadi takut kepada kelinci. Ke­mudian anak tersebut dilatihnya pula sehingga tidak men­jadi takut lagi kepada kelinci.

Menurut teori conditioning, belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena ada­nya syarat‑syarat (conditions) yang kemudian menimbul­kan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada conditi­oning. Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan-­kebiasaan mereaksi terhadap syarat‑syarat/perangsang­-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya.

Kelemahan dari teori conditioning ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata‑mata ter­gantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentu­kan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukannya. Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubung­kan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal‑hal belajar tertentu saja; umpamanya dalam belajar yang mengenai skills (kecakapan-kecakapan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak‑anak kecil.

b. Teori Conditioning dari Guthrie

Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

c. Teori Operant Conditioning (Skinner) ,

Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons. Hanya perbedaannya, Skinner membuat perinci­an lebih jauh, Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:

1) Respondent response (reflexive response): respon yang ditimbulkan oleh perangsang‑perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur setelah melihat makanan ter­tentu. Pada umumnya, perangsang‑perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.

2) Operant response (instrumental response): yaitu res­pon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh pe­rangsang‑perangsang tertentu. Perangsang yang demiki­an itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, kare­na perangsang itu memperkuat respon yang telah di­lakukan oleh organisme.

Di dalam kenyataan, respon jenis pertama sangat terbatas adanya pada manusia. Sebaliknya operant response merupakan bagian terbesar dari tingkah laku, manusia dan kemungkin­an untuk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih memfokuskan pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini. Jadi yang menjadi soal adalah: bagaimana menimbulkan, mengembangkan dan memodifikasi tingkah laku. Prosedur pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning secara sederhana adalah seperti berikut:

(a) Mengindentifikasi hal‑hal apa yang merupakan reinforcer (hadiah) bagi tingkah laku yang akan dibentuk.

(b) Menganalisis, dan selanjutnya mengidentifikasi kom­ponen‑ komponen kecil yang membentuk tingkah laku yang dimaksud. Komponen‑komponen itu lalu disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada ter­bentuknya tingkah laku yang dimaksud.

(c) Berdasarkan urutan komponen‑komponen itu sebagai tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer (hadiah) untuk masing‑masing komponen itu.

(d) Melakukan pembentukan tingkah laku, dengan meng­gunakan urutan komponen‑komponen yang telah di­susun. Kalau komponen pertama telah dilakukan, maka hadiahnya diberikan; hal ini akan mengakibat­kan komponen tersebut cenderung untuk sering di­lakukan. Kalau ini sudah terbentuk dilakukan komponen kedua yang kemudian diberi hadiah pula (kom­ponen pertama tidak lagi memerlukan hadiah); demikian berulang‑ulang sampai komponen kedua itu terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga, dan seterusnya, sampai seluruh tingkah laku yang diharapkan terbentuk.

d. Teori Systematic Behavior (Hull)

Seperti halnya dengan Skinner, maka Clark C Hull meng­ikuti jejak Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar. Prinsip‑prinsip yang digunakanya mirip de­ngan apa yang dikemukakan oleh para behavioris yaitu dasar stimulus‑respon dan adanya reinforcement.

Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat di­perkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon‑respon yang dibuat individu itu. Setiap obyek, kejadian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu keadaan deprivasi (kekurangan) pada diri individu itu; yaitu jika obyek, kejadian atau situasi tadi dapat menjawab suatu kebutuhan pada saat individu itu melakukan respon.

Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil‑hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang (misalnya: uang, perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial ting­kat tinggi). Jadi, prinsip yang utama adalah suatu ke­butuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.

Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah adanya incentive motivation (motivasi insentif) dan drive stimulzis reduction (pengurangan stimulus pendorong). Kecepatan berespon berubah bila besarnya hadiah (reward) berubah.

e. Teori Conectionism (Thorndike)

Menurut teori trial and error (mencoba‑coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan‑tindakan yang sifatnya coba‑coba secara membabi buta jika dalam usaha mencoba‑coba itu secara ke­betulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu kemudian “dipegangnya”. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan antuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.

Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses:

1 ) trial and error (mencoba‑coba dan mengalami kegagalan), dan

2) law of effect; Yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik‑baiknya. Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menye­nangkan akan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis. Otomatisme dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat‑syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia.

Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada pe­rangsang yang mempengaruhi dirinya. Terjadinya otomatis­me dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect itu. Dalam kehidupan sehari‑hari law of effect itu dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan atau ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan. Akan tetapi me­nurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pen­didikan ialah hal memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan.

Karena adanya law of effect terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasil biaya (effect). Karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya itu maka teori Thorndike disebut juga Connectionism.

f. Teori Belajar Sosial (Bandura)

Albert Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). la mempermasalahkan peranan, ganjaran, dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme pelaziman dan peneguhan. Bandura menyatakan bahwa belajar terjadi karena peniruan (imitation). Kemampuan meniru respons orang lain, misalnya meniru bunyi yang sering didengar, adalah penyebab utama belajar. Ganjaran dan hukuman bukanlah faktor penting dalam belajar, tetapi faktor yang penting dalam melakukan satu tindakan (performance).

Jadi menurut Bandura, bila anak selalu diganjar (dihargai) karena mengungkapkan perasaannya, ia akan sering melakukannya. Tetapi jika ia dihukum atau dicela ia akan menahan diri untuk bicara walau pun ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Melakukan satu perilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh peniruan.

Selanjutnya Bandura menjelaskan bahwa dalam proses belajar sosial ada empat tahapan proses, yaitu:

(1) Proses perhatian

(2) Proses pengingatan (retention)

(3) Proses reproduksi motoris

(4) Proses motivasional

Kontribusi Psikologi Behaviorisme Terhadap

Perkembangan Teori Komunikasi

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, behaviorisme sebagai salah satu mazhab dalam psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang tingkah laku manusia. Dalam hal ini, pandangan behaviorisme tentang manusia berbeda secara signifikan dengan tiga pendekatan psikologi lain yang dominan, yaitu psikoanalisis, psikologi kognitif, dan psikologi humanisme.

Di lain pihak, komunikasi adalah suatu proses yang ditandai beberapa karakteristik di antaranya adalah komunikasi itu bersifat simbolik, irreversible, kompleks, berdimensi sebab akibat, dan mengandung potensi problem. Karakteristik di atas memperlihatkan betapa rumitnya suatu proses komunikasi. Oleh karenanya suatu tindakan komunikasi sepatutnya dikelola secara tepat. Dengan mengelola perilaku komunikasi dalam berbagai konteksnya maka berbagai kecenderungan yang mengarah pada terjadinya communication breakdown dapat dihindari. Dalam hal ini, pandangan psikologi behaviorisme dapat membantu memahami berbagai kecenderungan tingkah laku komunikan kita sebagai sasaran utama dalam kegiatan komunikasi yang kita lakukan.

Secara lebih khusus, penulisan pada bagian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ringkas tentang kontribusi psikologi behaviorisme terhadap perkembangan teori komunikasi. Adapun pembahasannya difokuskan kepada teori-teori komunikasi dalam konteks komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa yang masing-masing hanya dikemukakan satu contoh. Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa pada masing-masing konteks komunikasi, pandangan behaviorisme telah memberikan kontribusinya secara signifikan.

Konteks Komunikasi Interpersonal

Teori dari perspektif behaviorisme yang akan dibahas dalam konteks komunikasi interpersonal adalah Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) dari Thibault dan Kelley. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang tokoh utama teori ini, menyimpulkan teori pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi utama yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.” Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan merupakan konsep-konsep pokok dalam teori ini.

Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan interpersonal. Ganjaran bisa berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial (social approval) lebih berharga daripada uang. Bagi si miskin, hubungan interpersonal yang dapat mengatasinya kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran daripada hubungan yang menambah pengetahuan.

Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan interpersonal. Biaya dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri, serta kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.

Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba.

Sementara tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan interpersonal yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun.

Konteks Komunikasi Massa

Sumbangan yang terbesar untuk memahami cara ber­komunikasi massa mengambil bahagian dalam proses sosialisasi adalah melalui modelling theory yang diperkenalkan o1eh psikolog Albert Bandura serta para pembantunya di tahun 1960‑an. Sebagian besar isi teori ini sebenarnya bermuara pada teori psikologi : social learning theory yang telah dijelaskan. Kita akan mengenal berapa aplikasinya pada studi yang berkaitan dengan komunikasi massa.

1. Teori belajar sosial (belajar mengobservasi)

Teori ini memang tidak secara khusus belajar mengenai pengaruh terpaan media massa tetapi secara umum dapat men­jelaskan bagaimana orang memperoleh bentuk‑bentuk yang baru dari perilakunya yang diperolehnya dari masyarakat sekelilingnya. Disebut belajar sosial karena penekanannya pada bagaimana individu mengamati aktivitas orang lain kemudian mengadopsi perilakunva sebagai bentuk aktivitas untuk menghadapi masalah dalam beragam situasi dan kondisi atau kejadian‑kejadian lain, yang dialaminya.

Alekis Tan (1981) dalam Hardy (1985) mengemukakan bahwa pada prinsipnya teori belajar sosial menunjukkan sebenarnya setiap manusia tidak dilahirkan dengan memiliki suatu sikap atau nilai dan pandangan tertentu terhadap dunianya. Dunialah yang sebalikya mempengaruhi dan membangun persepsi kita. Kita belajar dari dunia karena kita membuat reaksi terhadap setiap rangsangan yang masuk dari luar. Ada banyak teori mengenai perilaku sudah pernah diulas dan sebagian besar mene­kankan tentang hal ini yaitu bagaimana manusia dan juga hewan belajar dari lingkungannya hanya karena berinteraksi untuk meme­nuhi kebutuhan hidupnya.

Namun demikian menurut Albert Bandura dalam Hardy (1985) mengajukan teori bercakupan luas tentang perilaku manusia yang disebutnya dengan teori belajar sosial itu. Teori ini menjelas­kan bagaimana manusia belajar sccara langsung dari pengalaman­nya sebaik‑baiknya dan menjadikan sesuatu yang pernah diamati­nya itu sebagai modelnya. Bandura juga menambahkan bahwa teori belajar sosial menerangkan perilaku manusia sebagai konstruk dari lingkungan sosial serta faktor‑faktor kognitif dari setiap manusia. Yang penting dari teori Bandura yang perlu diingat adalah bahwa proses belajar mengikuti sesuatu dimulai dari tahap:

(1) Proses memperhatikan;

(2) Proses mengingatkan kembali;

(3) Proses gerakan untuk menciptakan kembali;

(4) Proses mengarahkan gerakan sesuai dengan dorongan.

Albert Bandura ingin menerangkan misalnya kita melihat suatu kejadian maka kita memperhatikan kejadian itu dengan saksama. Kemudian kita mengingat‑ingat kembali apakah kita mempunyai pengalaman yang sama dengan apa yang dilihat itu. Menyusul setiap orang karena pengingatannya kembali mencipta­kan reaksi‑reaksi terhadap apa yang dilihatnva, reaksi‑reaksi ter­sebut terhadap apa yang dilihatnya, reaksi‑reaksi tersebut merupa­kan perulangan pengalaman yang pernah dilakukannya. Arah dari perlakuan gerakan itu disesuaikan dengan motivasi yang dimiliki orang itu.

Peranan media massa dalam hubungannya dengan teori belajar sosial tersebut dapat, mengisi keempat proses yang diajukan Bandura. Media massa melalui pesan‑pesannya dapat mengakibat­kan seseorang lebih memperhatikan suatu pesan tertentu, atau dapat mengakibatkan seseorang mengingat. kembali pengalamannya. Media juga dapat mendorong, atau mempercepat proses gerakan, reaksi untuk menciptakan kembali cara‑cara. yang sama yang pernah dilakukannya, dan media juga membantu meneguhkan motivasi yang dimiliki seseorang.

Aplikasi dari teori belajar sosial dapat dirinci dengan kehadiran empat teori berikut yang dikemukakan melalui tulisan Bittner(1986) dan Bradac (1989), yaitu:

a) Teori Chatarsis

Prinsip dasar teori ini bahwa kita dapat menghilangkan sikap frustasi yang dimiliki dengan menonton film‑film kekerasan di televisi. Anggapan teori ini bahwa ada satu keuntungan yang diper­oleh akibat menonton film kekerasan di televisi karena kekerasan itu dapat memecahkan masalah frustasi.

b) Teori Aggresive Cues

Menurut teori aggressive cues bahwa terpaan berita atau film kekerasan pada siaran televisi dapat menumbuhkan atau merangsang penonton membuat semacam katalisator yang kuat dalam mempertahankan diri kalau terjadi hal yang sama melanda dirinya.

c) Teori reinforcemeni

Teori ini menyatakan bahwa kekerasan yang disiarkan di televisi dapat meneguhkan perilaku yang sudah ada yang selama ini dilakukan oleh para penontonnya.

d) Teori belajar mengobservasi

Berdasarkan teori ini bahwa kita menyelidiki dengan saksama dan mempelajari serta menganalisis pelbagai perilaku kekerasan yang muncul di televisi.

Banyak penelitianpun dilakukan untuk menguji kembali kebenaran teori‑teori tersebut dan menemukan memang benar bahwa jika dibandingkan dengan media cetak maka ternyata pelukisan kekerasan melalui media massa elektronik terutama media televisi lebih kuat. Karena orang melihat secara langsung penggambaran perilaku terutama proses suatu peristiwa secara dinamik daripada di surat kabar yang membutuhkan suatu pemikiran untuk memahami dan menjelaskan konsep proses. Media massa khususnya elektronik (dapat lebih baik sebagai agen sosialisasi) dalam waktu panjang dan lebih cepat jika dibandingkan dengan media non elektronik.

2. Proses pemodelan.

Proses pemodelan atau modelling theory digunakan untuk menggambarkan aplikasi dari teori sosial learning secara umum yang membentuk perilaku yang baru melalui penggambaran media. Media memberikan peluang yang membuat daya tarik besar dari pola‑pola perilaku yang dinyatakan dalam media oleh komunikator. Pelbagai kepustakaan melukiskan bahwa anak‑anak maupun orang‑orang menyusun sikapnya apakah itu kesan, emosi, gaya hidup baru akibat terpaan media dari film dan televisi.

Pembentukan perilaku yang baru akibat terpaan komunikasi massa dalam proses pemodalan dapat dirumuskan ke dalam beberapa proposisi :

(a) Seorang individu yang menjadi anggota khalayak media massa dapat mengamati atau membaca perilaku model yang ditunjukkan seseorang melalui sebagian isi media.

(b) Para pengamatan yang mengidentifikasi model‑model itu percaya dan lambat laun menyukai model, ingin menjadi seperti model itu, atau melihat model sebagai, daya tarik yang cepat dan patut ditiru.

(c) Pengamat dapat dengan sadar menghubungkan gambaran perilaku yang diamati dengan fungsi perilakunya. Karena seseorang menjadi lebih percaya dan yakin bahwa gambaran perilaku melalui media dapat membawa daya tarik yang lebih besar berhasil diimitasi orang lain dalam sebagian situasi

(d) Pada waktu individu mengingat kembali aksi‑aksi dari suatu individu dari suatu model yang dilihatnya pada situasi yang relevan maka ia akan mengulangi atau memperbanyak perilaku yang sesuai dengan itu berdasarkan situasi dan kondisinya.

(e) Penampilan atau pengulangan setiap sikap perilaku dalam suatu situasi perangsang yang cocok akan membawa seseorang semakin mendekat pada model karena dorongan, sokongan, ganjaran, atau faktor pemuas yang diberikan media. Media meneguhkan perilaku seseorang melalui model yang patut ditiru.

(f) Penguatan yang positif akan meningkatkan peluang bagi seseorang dalam menggunakan model itu untuk memper­banyak perilaku yang sama pada situasi yang sama.

Proposisi ini dapat terlihat hasilnya dalam suatu penelitian oleh Prof. George Comstock yang menunjukkan hubungan antara kekerasan dengan perilaku agresif, hasilnya adalah:

(a) Film siaran kartun tentang kekerasan seakan‑akan hidup sesuai dengan kejadian aslinya dan dapat mempengaruhi sikap agresif bagi sebagian penontonnya.

(b) Pengulangan suatu terpaan film kartun tentang kekerasan tidak dapat menghapuskan kemungkinan terpaan berita yang baru yang juga dapat mempengaruhi penampilan yang agresif dari seseorang.

(c) Penampilan perilaku yang agresif sama sekali tidak bebas terhadap bentuk‑bentuk frustasi lainnya meskipun peluang untuk menjadi agresif diabaikan.

(d) Meskipun efek yang diteliti pada setiap eksperimen itu menunjukkan seseorang “lebih agresif” namun tidak diper­oleh kesan bahwa seseorang menjadi anti Sosial.

Kesimpulannya bahwa sebenarnya tidak semua sikap anti sosial berasal dari siaran kekerasan di televisi.

(e) Secara sederhana sebenarnya faktor‑faktor yang memungkinkan semakin meningkatnya sikap agresif seseorang juga adalah sugesti. Dengan sugesti dimaksudkan bahwa seseorang semakin agresif karena ia menerima sesuatu contoh cara dari orang‑orang yang lain tanpa bersikap kritis terlebih dahulu. Perilaku agresif seolah‑olah membenarkan suatu kenyataan sosial, suatu kondisi yang semrawut, atau dimotivasi oleh rasa benci, balas dendam yang dilakukan seseorang. Perilaku‑perilaku ini pada kelompok anak muda lebih mirip dengan apa yang ditontonnya sehingga lingkungan meng­anggapnya hanya diakibatkan. oleh pesan media massa.

Namun demikian tidak ada alasan yang mendasar bagi kita bahwa pengulangan terpaan pesan kekerasan yang pernah dilihat sekelompok remaja bisa membuat mereka menjadi lebih kebal, yang bisa dicurigai malah akibat terpaan dari televisi justru merangsang anak‑anak itu kembali cepat merasakan kekerasan dalam lingkungannya.

Dapat disimpulkan babwa kekerasan di televisi membuat kita harus ingat bahwa sebagian besar issu yang menjadi tema kekerasan itu dapat mempengaruhi keputusan setiap orang bagi masa depannya melalui pesan‑pesan yang disosialisasikannya.

Kesimpulan

Berdasar pada pembahasan sebelumnya maka pada akhir tulisan ini dapat kami simpulkan bebarapa hal yang dianggap penting, antara lain:

(1) Pendekatan Behaviorisme memusatkan pada pendekatan ilmiah yang objektif sehingga dalam pendekatan ini hal-hal yang berbau subjektifitas sama sekali diabaikan. Dalam pendekatan yang dilakukan kaum behaviorisme menekankan pada kekuatan-kekuatan luar yang berasal dari lingkungannya.

(2) Penganut paham behavior sangat percaya bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada proses pembelajaran. Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan­-kebiasaan bereaksi terhadap syarat‑syarat atau perangsang­an-perangsangan tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya. Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

3) Demikian pula dalam konteks komunikasi baik komunikasi interpersonal, kelompok maupun komunikasi massa teori-teori yang dikembangkan tidak lepas dari asumsi dasar bahwa manusia belajar dari lingkungannya (S-R) dengan demikian teori komunikasi menitik beratkan pada kondisi dan situasi lingkungan yang mempengaruhi komunikan kita.

Daftar Pustaka

Depari, Edward dan Collin Mac Andrews, 1991, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Fisher, B.Aubrey, 1990, Teori-Teori Komunikasi Massa, Remadja Karya, Bandung.

Griffin EM, 2002, A First Look At Communication Theory, Fifth Edition, Mc. Graw Hill, Boston.

Goldberg A Alvin, Carl E Larson, (diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan Garry Jusuf), 1985, Komunikasi Kelompok, Proses-Proses Diskusi dan Penerapannya, edisi pertama, UI Press, Jakarta.

Hardy, Malcom, (diterjemahkan Soenardji), 1988, Pengantar Psikologi, Erlangga, Jakarta.

Liliweri, Alo, 1991, Memahami Peran Komunikasi Dalam Masyarakat, Citra Aditya Bakti, Bandung

Matson, Floyd, 1966, The Broken Image, Doubleday, New York.

Rakhmat, Jalaluddin, 2001, Psikologi Komunikasi, Remadja Karya, Bandung,

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1986. Berkenalan dengan Alirah­ Aliran dan Tokoh‑Tokoh Psikologi, Bulan Bintang: Jakarta.

Sears, O.David, Jonathan L Freedman dan L. Anne Peplau, 1992, Psikologi Sosial, edisi lima, Erlangga, Jakarta

PERKEMBANGAN MEDIA MASSA DAN MEDIA LITERASI

PERKEMBANGAN MEDIA MASSA DAN MEDIA LITERASI

DI INDONESIA

Oleh: Agus Setiaman dan Slamet Mulyana

Pendahuluan

Everett M. Rogers dalam bukunya Communication Technology; The New Media in Society (dalam Mulyana, 1999), mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext dan teletext, teleconferencing, TV kabel dan sebagainya.

Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media – The Extensions of Man (1999), mengemukakan ide bahwa “ medium is message” (pesan media ya media itu sendiri). McLuhan menganggap media sebagai perluasan manusia dan bahwa media yang berbeda-beda mewakili pesan yang berbeda-beda. Media juga menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta bentuk dari hubungan-hubungan dan kegiatan-kegiatan manusia. Pengaruh media telah berkembang dari individu kepada masyarakat. Dengan media setiap bagian dunia dapat dihubungkan menjadi desa global.

Pengaruh media yang demikian besar kepada masyarakat menghantarkan pemikiran McLuhan untuk menyampaikan Teori Determinime Teknologi yang mulanya menuai banyak kritik dan menebar berbagai tuduhan. Ada yang menuduh bahwa McLuhan telah melebih-lebihkan pengaruh media. Tetapi dengan kemajuan teknologi komunikasi massa, media memang telah sangat maju. Saat ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak di antara bangsa-bangsa. Ungkapan Mcluhan tidak dapat lagi dipandang sebagaisebuah ramalan belaka. Sebagai sebuah perbandingan perkembangan teknologi media dewasa ini; dibutuhkan hampir 100 tahun untuk berevolusi dari telegraf ke teleks, tetapi hanya dibutuhkan 10 tahun sebelum faks menjadi populer. Enam atau tujuh tahun yang lalu, internet masih merupakan barang baru tetapi sekarang mereka-mereka yang tidak tahu menggunakan internet akan di anggap ketinggalan!

Di masyarakat dapat disaksikan bahwa teknologi komunikasi terutama televisi, komputer dan internet telah mengambil alih beberapa fungsi sosial manusia (masyarakat), setiap saat kita semua menyaksikan realitas baru di masyarakat, dimana realitas itu tidak sekedar sebuah ruang yang merefleksikan kehidupan masyarakat nyata dan peta analog atau simulasi-simulasi dari suatu masyarakat tertentu yang hidup dalam media dan alam pikiran manusia, akan tetapi sebuah ruang dimana manusia bisa hidup di dalamnya. Media massa merupakan salah satu kekuatan yang sangat mempengaruhi umat manusia di abad 21. Media ada di sekeliling kita, media mendominasi kehidupan kita dan bahkan mempengaruhi emosi serta pertimbangan kita.

Keberadaan media dimana-mana dan juga periklanan telah mengubah pengalaman sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Media merupakan unsur penting dalam pergaulan sosial masa kini. Kebudayaan masyarakat tidak terlepas dari media, dan budaya itu sendiri direpresentasikan dalam media.

Sekarang ini eksploitasi pers dan media interaktif telah menuju ke arah penciptaan supremasi media yang mengancam keberadaan cara pandang objektif dan ruang publik. Hal ini sesuai dengan pandangan teori hegemoni; peran media bukan lagi sebagai pengawas (watchdog) pemerintah, tetapi justru menopang keberadaan kaum kapitalis dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka.

Strinati menyatakan bahwa “…budaya pop dan media massa merupakan subjek dari produksi, reproduksi, dan transformasi hegemoni melalui institusi masyarakat sipil yang mencakup area produksi budaya dan konsumsi… institusi-institusi tersebut meliputi pendidikan, keluarga, kelompok gereja, dan lain-lain”. Media dapat menjadi kunci untuk mempengaruhi khalayak melalui informasi yang diberikan dan ide-ide yang ditanamkan. Melalui proses ini dapat dilihat peran media secara ideologi. Hal semacam ini dominan dilakukan oleh negara-negara Barat yang membentuk pesan-pesan berbau hegemoni.

Di sisi lain, keberadaan media massa dewasa ini dinilai telah dijejali oleh informasi atau berita-berita yang menakutkan, seperti kekerasan, pencurian, pelecehan seksual, dan sebagainya. Bahkan media massa, kini menjadi penyebar pesan pesimisme. Akibatnya, media massa justeru sangat menakutkan bagi masyarakat. Di negara-negara berkembang, banyak sekali dijumpai kenyataan bahwa harapan-harapan yang diciptakan oleh pesan komunikasi dalam media massa menimbulkan frustrasi, karena tidak terpenuhi harapan yang dipaparkan media itu.

Dalam upaya menyikapi pengaruh media massa seperti itu, saat ini berkembang pemikiran tentang media literasi. Kajian ini merupakan gerakan penting di kalangan kumpulan-kumpulan advokasi di negara maju untuk mengendalikan kepentingan dan pengaruh media massa dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat serta membantu kita merancang tindakan dalam menangani pengaruh media massa. Dalam kata lain, kajian ini membantu individu menjadi melek media.

Tujuan dasar literasi media ialah mengajar khalayak dan pengguna media untuk menganalisis pesan yang disampaikan oleh media massa, mempertimbangkan tujuan komersil dan politik di balik suatu citra atau pesan media, dan meneliti siapa yang bertanggungjawab atas pesan atau idea yang diimplikasikan oleh pesan atau citra itu. Seseorang pengguna media yang mempunyai literasi media atau melek media akan berupaya memberi reaksi dan menilai sesuatu pesan media dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Kajian literasi media menyediakan pengetahuan, informasi dan statistik tentang media dan budaya, serta memberi pengguna media dengan satu set peralatan untuk berfikir dengan kritis terhadap idea, produk atau citra yang dismpaikan dan dijual oleh isimedia massa.

Hegemoni Media Massa

Memasuki abad ke 21, industri mediatengah berada di dalam perubahan yang cepat. Kerajaan-kerajaan media mulai membangun diri dengan skala yang besar. Merger ataupun pembelian media lain dalam industri media terjadi dimana-mana dengan nilai perjanjian yang sangat besar. Semakin lama bisnis media semakin besar dan melibatkan hampir seluruh outlet media yang ada dengan kepemilikan yang makin terkonsentrasi. Masyarakat mulai tenggelam dalam dunia yang dipenuhi oleh media. Apakah masyarakat terlayani dengan informasi yang aktual, beragam dan sesuai dengan kepentingan mereka oleh industri ini, atau perkembangan yang luar biasa ini hanya untuk meningkatkan keuntungan bagi “segelintir” orang yang terlibat dalam industri ini.

Media, menurut sudut pandang model pasar (Croteau dan Hoynes, 2001), dilihat sebagai tempat pemenuhan kebutuhan masyarakat berdasarkan atas hukum permintaan dan persediaan. Model ini memperlakukan media layaknya barang dan jasa lainnya. Bisnis media beroperasi dalam apa yang disebut sebagai “dual product” market, pasar dengan dua produk. Secara bersamaan menjual dua jenis “produk” yang sama sekaliberbeda pada dua jenis pembeli yang sama sekali berbeda. Dalam kenyataan, konsumen yang direspon oleh perusahaan media adalah pengiklan, bukan orang yang membaca, menonton, atau mendengarkan media.Ini tentu saja dapat menjelaskan bagaimana acara-acara di televisi misalnya,tampil hampir seragam. Apabila hasil riset menyatakan banyak orang yang menontonnya maka pengiklan akan memasang iklan pada slot acara tersebut, yang berarti pemasukan, sehingga tidak ada alasan untuk stasiun televisi untuk mengubahnya.

Bila dilihat dari sudut pandang lainnya, dengan menggunakan model ruang publik, media lebih dari hanya sekedar alat pengejar keuntungan. Media merupakan sumber informasi yang utama dimana informasi harus beredar dengan bebas, tanpa intervensi pemerintah yang menghalangi aliran ide. Sudut pandang ini melihat orang lebih sebagai anggota masyarakat daripada konsumen, maka dari itu media seharusnya “melayani” masyarakat tersebut.

Pertumbuhan media begitu pesat pada abad ke-20 dengan sejumlah regulasi dan deregulasi yang ikut mewarnai perkembangan industri ini. Bila pada awal abad ke-20 konglomerasi media sangat dibatasi, keadaan pada akhir abad ini berubah drastis dimana terjadi akusisi dan merger dalam skala yang besar. Pertumbuhan yang terjadi ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi sehingga outlet media semakin beragam. Media yang menggunakan teknologi yang lebih awal dipaksa untuk berevolusi untuk menghadapi media yang berteknologi lebih baru. Contohnya peluncuran koran USA Today pada tahun 1982 yang menampilkan berita dalam ukuran kecil dengan banyak foto-foto berwarna serta dihiasi dengan tampilan grafis merupakan cara koran untuk mengimitasi gaya dan format televisi.

Seiring dengan berjalannya waktu, difasilitasi dengan lingkungan regulasi yang semakin longgar, perusahaan media yang besar bergabung atau membeli perusahaan media lainnya untuk membuat konglomerasi media yang lebih besar dan juga global. Dilihat dari sudut pandang “pasar”, hal ini wajar dalam rangka untuk memperbesar penjualan, efisiensi dalam produksi, dan memposisikan diri terhadap kompetitor. Namun bila dilihat dari sudut pandang ruang publik, hal ini tidak menjamin terlayaninya kepentingan publik (public interest). Jumlah outlet media yang banyak belum tentu menjamin terpenuhinya content yang menjadi kepentingan publik.

Tren yang berlaku pada struktur industri media akhir-akhir ini adalah Pertumbuhan, Integrasi, Globalisasi, dan Pemusatan Kepemilikan. Proses restrukturisasi pada industri media telah mengizinkan para konglomerat untuk menjalankan strategi-strategi yang diarahkan untuk memaksimalkan keuntungan, mengurangi biaya, dan meminimalkan resiko. Perubahandalam struktur media serta prakteknya berpengaruh nyata pada isi media. Pengejaran keuntungan menjuruskan media pada homogenisasi dan trivialisasi (membuat sesuatu yang tidak penting). Isi pada media akan sering berbenturan dan menyesuaikan pada kepentingan bisnis yang mengejar keuntungan.

Hegemoni, menurut pandangan Gramsci (1971)tidak hanya menunjukkan dominasi dalam kontrol ekonomi dan politik saja, namun juga menunjukkan keampuan dari suatu kelas sosial yang dominan untuk memproyeksikan cara mereka dalam memandang dunia. Jadi, mereka yang mempunyai posisi di bawahnya menerima hal tersebut sebagai anggapan umum yang sifatnya alamiah.

Budaya yang tersebar merata di dalam masyarakat pada waktu tertentu dapat diinterpretasikan sebagai hasil atau perwujudan hegemoni, perwujudan dari penerimaan “konsesual”oleh kelompok-kelompok gagasan subordinat, nilai-nilai, dan kepemimpinan kelompok dominan tersebut. Menurut Gramsci, kelompok dominan tampaknya bukan semata-mata bisa mempertahankan dominasi karena kekuasaan, bisa jadi karena masyarakat sendiri yang mengijinkan.

Dalam hal ini media massa merupakan instrumen untuk menyebarkan dan memperkuat hegemoni dominan, dalam hal ini peranan media adalah membangun dukungan masyarakat dengan cara mempengaruhi dan membentuk alam pikiran mereka dengan menciptakan sebuah pembentukan dominasi melalui penciptaan sebuah ideologi yang dominan. Menurut paradigma hegemonian, media massa adalah alat penguasa untuk menciptakan reproduksi ketaatan. Media massa seperti halnya lembaga sosial lain seperti sekolah dan rumah sakit dipandang sebagai sarana ampuh dalam mereproduksi dan merawat ketaatan publik.

Singkatnya, hegemoni dapat dikatakan sebagai reproduksi ketaatan, kesamaan pandangan, dengan cara yang lunak. Lewat media massa lah hegemoni dilakukan. Media secara perlahan-lahan memperkenalkan, membentuk, dan menanamkan pandangan tertentu kepada khalayak. Tidak hanya dalam urusan politik dan ekonomi, dapat juga menyangkut masalah budaya, kesenian, bahkan ke hal yang ringan seperti gaya hidup.

Konsep-konsep hegemoni yang dipaparkan di atas mungkin masih agak membingungkan, karena itu akan kita kupas penerapan hegemoni media dalam contoh yang lebih ringan.

Amerika Serikat dengan Hollywood-nya telah berhasil menjadi kiblat perfilman internasional. Sebagian besar film yang kita konsumsi merupakan buatan Amerika. Kondisi ini tidak disia-siakan oleh mereka untuk menyetir pandangan masyarakat dunia terhadap negara mereka. Amerika Serikat berusaha membangun pandangan bahwa negara mereka adalah negara terkuat, superhero, penyelamat dunia. Dengan pandainya, mereka melakukan hegemoni ini melalui film-film mereka yang ditonton sebagian besar masyarakat dunia. Coba perhatikan film-film science fiction seperti Armageddon, Independence Day, Mars Attack, dan lain sebagainya. Disini Amerika Serikat selalu digambarkan sebagai sosok “jagoan”. Usaha-usaha mereka digambarkan bukan hanya untuk menyelamatkan bangsanya sendiri, tetapi untuk menyelamatkan dunia. Dan lagi-lagi, mereka berhasil melakukan usaha penyelamatan tersebut. Kita sebagai penonton seolah-olah terdoktrin bahwa bangsa Amerika adalah pelindung dunia, dan setiap tindakan yang dilakukan adalah untuk kepentingan seluruh bangsa di dunia.

Contoh lainnya dalam hal fashion. Sebuah gaya busana baru dikatakan “ngetren” jika selebriti atau kalangan yang diekspos media memakai gaya busana tersebut. Ternyata selama ini tidak ada yang berhak menyandang gelar trendsetter karena kita hanya mencontoh gaya busana yang terus menerus muncul di media, kemudian saling mengikuti satu sama lain. Tren tersebut bersemi untuk sementara, sampai media mengekspos gaya busana yang baru. Media lah yang menjadi komandan what’s in and what’s out. Benarkah media berpengaruh sebegitu kuat? Taruhan, saat ini dijamin tidak ada mahasiswa (diasumsikan mahasiswa melek fashion) yang berani ke kampus dengan gaya rambut mengembang, sweater besar, rok mini, dan ikat kepala warna-warni, dimana saat ini media selalu memunculkan remaja putri dengan rambut lurus berponi, kaus ketat, jeans boot cut, dan sepatu hak tinggi.

Hegemoni media juga berhasil mengubah cara khalayaknya mengkonstruksikan konsep, contoh mudahnya konsep ketampanan dan kecantikan. Setahun yang lalu, ketika film MeteorGarden mengalami sukses besar, tampaknya para remaja putri memiliki kesepakatan baru mengenai konsep “tampan”. Pada masa tersebut, pria yang dikatakan tampan adalah pria berwajah oriental, dengan rambut semi gondrong berlayer. Begitu juga ketika produsen sabun Lux secara bergantian menampilkan bintang-bintang iklan yang cantik, berkulit putih, agak ke-bule-bule-an (kecuali Dian Sastro), tentunya banyak pria bersepakat bahwa wanita yang cantik adalah wanita yang berkulit putih, berambut panjang, keturunan eropa atau amerika.

Contoh lain yang populer di Indonesia adalah ketika sinetron-sinetron remaja berhasil menciptakan pergeseran nilai dalam kehidupan remaja di kota-kota besar. Saat ini siapa yang mengajarkan orang tua untuk memberi izin anaknya yang masih duduk di SMP untuk menyetir mobil sendiri ke sekolah, bahkan dengan ikhlas membuatkan SIM tembak untuk anaknya? Siapa yang mengajarkan bahwa anak-anak usia sekolah saat ini boleh-boleh saja keluar malam dan pulang pagi? Siapa lagi kalau bukan sinetron remaja yang terus menerus berusaha menampilkan bahwa anak SMP yang menyetir mobil sendiri dan pulang pagi adalah suatu kewajaran.

Perkembangan Media Massa Di Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan media massa di Indonesia cukup menakjubkan. Data yang ada, seperti dikutip Sendjaja (2000), menunjukkan kondisi sebagai berikut:

1.Di bidang pertelevisian, selain jaringan TVRI saat terdapat 10 (sepuluh) stasiun televisi swasta, yaitu RCTI, TPI, SCTV, ANTEVE, INDOSIAR, METRO TV, TRANSTV, LATIVI, GLOBAL TV, DAN TV 7. Di samping itu kini telah beroperasi 7 televisi berlangganan satelit, 6 televisi berlangganan terrestrial, dan 17 televisi berlangganan kabel.

2.Dunia penyiaran radio pun mengalami kemajuan meskipun tidak sepesat televisi. Hingga akhir tahun 2002, terdapat 1188 Stasiun Siaran Radio di Indonesia. Jumlah itu terdiri atas 56 stasiun RRI dan 1132 buah Stasiun Radio Swasta.

3.Perkembangan industri dan bisnis penyiaran ini tampaknya telah mendorong tumbuh pesatnya bisnis ‘Rumah Produksi’ (Production House/PH). Sebelum krisis ekonomi, tercatat ada 298 buah perusahaan PH yang beroperasi di mana sekitar 80% di antaranya berada di Jakarta. Pada saat krisis, khususnya antara tahun 1997-1999, jumlah PH yang beroperasi menurun drastis sampai sekitar 60%. Dalam satu tahun terakhir (2003), bisnis PH secara perlahan kembali bangkit yang antara lain didorong oleh peningkatan jumlah Televisi Swasta. Kebutuhan TV Swasta akan berbagai acara siaran, mulai acara hiburan sampai acara informasi dan pendidikan, banyak diproduksi oleh PH lokal.

4.Dunia bisnis media penerbitan, khususnya surat kabar dan majalah, juga mengalami peningkatan khususnya dalam hal kuantitas. Pada tahun 2000, menurut laporan MASINDO, terdapat 358 media penerbitan. Jumlah tersebut terdiri atas 104 surat kabar, 115 tabloid, dan 139 majalah. Hal menarik dalam penerbitan media massa cetak ini adalah semakin beragamnya pelayanan isi yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan segmen khalayak pembacanya. Dengan kata lain, ‘spesialisasi’ telah ditempuh sebagai upaya menembus situasi kompetisi yang semakin ketat.

Dengan perkembangan seperti di atas, baik dalam jumlah maupun jenisnya, mustahil semua media massa menguasai seluruh pasar yang ada. Sebaliknya, kecil sekali kemungkinan hanya satu media massa dapat menguasai seluruh pasar, dalam arti memenuhi segala macam tuntutan pasar, karena tuntutan pasar juga sangat bervariasi.

Kompetisi telah menjadi kata kunci dalam kehidupan media massa saat ini.Keadaannya menjadi semakin kompleks, karena mencakup kompetisi tiga kelompok yaitu: Pertama, antara media cetak baik dari jenis yang sama maupun yang berbeda jenis; Kedua, antara media elektronik baik audio (radio) maupun audio-visual (televisi); serta Ketiga, antara media cetak di satu pihak dengan media elektronik di pihak lain.

Dalam memperebutkan pangsa pasar, kompetisi media massa tidak hanya meliputi aspek isi, penyajian berita atau bentuk liputan lainnya, tetapi juga aspek periklanan. Hal tersebut dipersulit pula oleh perubahan tuntutan pasar (konsumen). Juga perubahan dalam cara, gaya dan strategi kompetisi yang digunakan masing-masing media massa sebagai respons terhadap tuntutan pasar.

Konsep Media Literasi

Secara sederhana, media literasi pada dasarnya merupakan kepedulian masyarakat terhadap dampak buruk dari media, khususnya media massa. Perkembangan teknologi komunikasi, khususnya berkenaan dengan keberadaan media massa, di samping memberikan manfaat untuk kehidupan manusia ternyata juga memberikan dampak lain yang kurang baik. Beberapa dampak tersebut antara lain (1) Mengurangi tingkat privasi individu, (2) Meningkatkan potensi kriminal, (3) Anggota suatu komunitas akan sulit dibatasi mengenai apa yang dilihat dan didengarnya, (4) ntenet akan mempengaruhi masyarakat madani dan kohesi sosial, serta (5) Akan overload-nya informasi (Fukuyama dan Wagner, 2000).

Tujuan dasar media literasi ialah mengajar khalayak dan pengguna media untuk menganalisis pesan yang disampaikan oleh media massa, mempertimbangkan tujuan komersil dan politik di balik suatu citra atau pesan media, dan meneliti siapa yang bertanggungjawab atas pesan atau idea yang diimplikasikan oleh pesan atau citra itu.

Berdasarkan hasil Konferensi Tingkat Tinggi mengenai Penanggulangan Dampak Negatif Media Massa, yaitu 21 Century Literacy Summit yang diselenggarakan di Jerman pada 7-8 Maret 2002, diperoleh gambaran kesepakatan yang disebut 21 Century in A Convergen Media Word. Kesepakatan tersebut, seperti disampaikanBertelsmann dan AOL Time Warner (2002), menyatakan bahwa media literasi mencakup:

1.Literasi teknologi; kemampuan memanfaatkan media baru seperti Internet agar bisa memiliki akses dan mengkomunikasikan informasi secara efektif.

2.Literasi informasi; kemampuan mengumpulkan, mengorganisasikan, menyaring, mengevaluasi dan membentuk opini berdasarkan hal-hal tadi.

3.Kreatifitas media; kemampuan yang terus meningkat pada individu dimanapun berada untuk membuat dan mendistribusikan konten kepada khalayak berapapun ukuran khalayak.

4.Tanggung jawab dan kompetensi sosial; kompetensi untuk memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi publikasi secara On-line dan bertanggung jawab atas publikasi tersebut, khususnya pada anak-anak

Sementara menurut Centre For Media Literacy (2003)upaya untuk memampukan khalayak media untuk mengevaluasi dan berpikir secara kritis terhadap konten media massa, mencakup:

1.Kemampuan mengkritik media.

2.Kemampuan produksi media

3.Kemampuan mengajarkan tentang media

4.Kemampuan mengeksplorasi sistem pembuatan media.

5.Kemampuan mengeksprolasi berbagai posisi

6.Kemampuan berpikir kritis atas konten media

Menurut David Buchingham, agar media literasi menjadi dapat berjalan dengan optimal maka diperlukan adanya pendidikan media untuk literasi media, yang mencakup:

a.Pendidikan media berkenaan dengan pendidikan tentang berbagai (full range) media. Tujuannya untuk mengembangkan “literasi” berbasis luas, yang tak hanya berkenaan dengan media cetak, tapi juga sistem simbolik citra dan suara.

b.Pendidikan media berkenaan dengan pembelajaran tentang media, bukan pengajaran melalui media.

c.Pendidikan media bertujuan untuk mengembangkan baik pemahaman kritis maupun partisipasi aktif, sehingga memampukan anak muda sebagai konsumen media membuat tafsiran dan penilaian berdasarkan informasi yang diperolehnya; selain itu memampukan anak muda untuk menjadi produser media dengan caranya sendiri sehingga menjadi partisipan yang berdaya di masyarakatnya. Pendidikan media adalah soal pengembangan kemampuan kritis dan kreatif anak muda.

Sementara itu, sesuai dengan Deklarasi Unesco mengenai pendidikan media (Dokumen Grundwald)/UNESCO Declaration of Media Education (2006) diperoleh beberapa konsep penting mengenaipendidikan media. Konsep tersebut adalah:

1.Memulai dan mendorong program-program pendidikan media secara komprehensif –mulai dari tingkat pra-sekolah sampai universitas, dan pendidikan orang dewasa– yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan mendorong perkembangan kesadaran kritis, dan konsekuensinya, melahirkan kompetensi yang lebih besar di kalangan pengguna media cetak dan elektronik. Idealnya, program seperti ini mencakup analisa produk media, penggunaan media sebagai sarana ekspresi kreatif, serta memanfaatkan secara efektif dan berpartisipasi dalam saluran media;

2.Mengembangkan pelatihan untuk para guru dan tokoh masyarakat (intermediaries) untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap media, dan melatih mereka dengan metode pengajaran yang tepat, yang memperhitungkan penguasaan yang sudah dimiliki namun masih bersifat fragmentaris terhadap media yang dimiliki banyak siswa;

3.Mendorong kegiatan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan manfaat pendidikan media, dalam bidang-bidang seperti psikologi, sosiologi dan ilmu komunikasi; dan

4.Mendukung dan memperkuat tindakan-tindakan yang dilakukan dan mencerminkan pandangan UNESCO serta bertujuan untuk mendorong kerjasama internasional dalam pendidikan media.

Lebih jaun ada beberapa pengertian yang lebih spesifik tentang media literasi yang dapat dirujuk untuk memahami konsep ini. Pengertian tersebut antara lain:

1.Media Literacy Online Project – College of Education University of Oregon at Eugene, menyatakan bahwa:

Media Literacy is concerned with helping students develop an informed and critical understanding of the nature of the mass media, the techniques used by them, and the impact of the techniques. More spesifically, it is education that aims to increase students’ understanding and enjoyment of how the media work, how they produce meaning, how theyare organized, and how they construct reality. Media literacy also aims to provide students with the ability to create media products”.

2.Hobbs dan Frost, The Acquisition of Media Literacy Skills among Australian Adolescents dalam Journal of Broadcasting and Electronic Media, menyatakan:

Media Literacy is the ability to access, analyze, evaluate and communicate messages in wide variety of forms”.

3.Committee of Public Education dalam Pediatrics Vol. 104/2 Agustus 1999, menyatakan bahwa:

Media Literacy is the study and analysis of mass media”.

4.Tapio Varis dalam Aproaches to Media Literacy and e-Learning, 2000, menyatakan bahwa:

Media Literacy is the ability to communicate competently in all media, print and electronic, as well as to access, analyze and evaluate the powerful images, words and sounds that make up our contemprorary mass media culture. These skills of media literacy are essential for our future as individuals and as members of a democratic society”.

Media Literasi Di Indonesia

Belum ada hasil penelitian yang menyebutkan tingkat literasi (melek media) di Indonesia. Tingkat literasi biasanya berhubungan dengan tingkat pendidikan dan daya kritis masyarakat. Makin tinggi pendidikan dan daya kritis seseorang makin tinggi tingkat literasinya. Memang hipotesis seperti itu masih perlu diuji di banyak tempat dan di berbagai kelompok masyarakat.

Menyaksikan perilakunya, khalayak terbelah dua, khalayak pasif dan khalayak aktif. Jumlah khalayak pasif jauh lebih besar ketimbang yang aktif. Mereka itu seperti diam saja menerima informasi dari media massa, bahkan tidak jarang tampak seperti tidak berdaya. Ini ada kaitannya dengan Teori Jarum Suntik. Begitu disuntik oleh pesan komunikasi, isinya segera menjalar ke seluruh pelosok tubuh. Karena keperkasaan media massa, seolah-olah masyarakat tidak berdaya menghadapinya. Mereka itu mendapatkan pesan komunikasi seperti masuk dari satu telinga segera dikeluarkan lewat telinga yang lain. Mereka yang aktif selain berinteraksi sesamanya juga mengritisi media massa tempat asal informasi. Mereka ini sadar-media atau sering disebut melek-media. Sedikitnya, jika memperhatikan teori di atas, tubuh pasien (khalayak) mengadakan ”perlawanan,” tidak menyerah begitu saja pada obat dan jarum suntiknya.

Di dalam ”melek-media,” khalayak aktif tidak sekedar sebagai pemerhati atau pengamat tapi aktif melakukan sesuatu jika media massa telah melakukan penyimpangan. Penyimpangan ini bisa mengenai informasinya yang salah, kurang tepat, tidak seimbang, dan semacamnya. Jika itu yang terjadi maka khalayak dapat melakukan protes. Protes dilindungi oleh Undang-undang No.40/1999, dua hak yang berhubungan dengan itu adalah Hak Koreksi dan Hak Jawab.

Hak Jawab adalah hak seseorang/sekelomplok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya. Pasal 5 Ayat 2 UU 40/1999) menyebutkan, pers wajib melayani Hak Jawab. Sering pers tidak segera melayani Hak Jawab. Kalau pun melayaninya, kadang-kadang hanya di rubrik Surat Pembaca.

Hak Koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. Pasal 5 Ayat 3 UU 40/1999 menyebutkan, pers wajib melayani Hak Koreksi. Hak ini sebenarnya sebagaian tumpang tindih dengan Hak Jawab, hampir selalu dilayani pers di Surat Pembaca.

Pelanggaran atas Hak Jawab oleh kalangan pers, selain berupa pelanggaran kode etik, juga pelanggaran atas UU No. 40/1999 yang berimplikasi pada denda. Pelanggaran kode etik tidak berakibat hukum, tanpa sanksi yang berat. Pelanggaran atas UU 40 adalah tindak pidana yang berakitan dengan hukuman. Pasal 18 mengingatkan antara lain: Perusahaan pers yang melanggar antara lain Pasal 5 Ayat 2 ……. dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 500 juta.

Media massa yang cukup banyak melayani Hak Jawab dan Hak Koreksi adalah media cetak. Media elektronika, lebih-lebih televisi, kita jarang menyaksikan melayani kedua hak tersebut dengan baik. Boleh jadi, sajiannya sudah bagus, boleh jadi tidak tersedia ruang dan waktu untuk itu.

Namun, masyarakat belum banyak yang tahu mempunyai kedua hak tersebut. Lebih daripada itu, bahkan sebagian besar warga masyarakat tidak tahu, kemerdekaan pers adalah hak azasi warga negara. Sosialisasi tentang ini perlu terus menerus diberikan.

Selain mengenai isi dan sikap media massa yang dikritisi, bisa juga fungsi media massa yang dikritisi. Misalnya saja tentang fungsi media yang menyimpang atau kurang dijalankan dengan semestinya. Kontrol sosialnya kurang, atau bahkan berlebihan dan semacamnya. Tidak jarang pers kurang menjalankan fungsi watchdog-nya. Fungsi ini penting karena membuat pihak lain yang dikontrol atau diawasi/dijaga menjadi lebih hati-hati dalam bertindak.

Kekuasaan (pemerintah, DPR, pengadilan, parpol, dll) perlu dijaga dan diawasi oleh pers. Lalu siapa yang mengawasi pers? Masyarakatlah yang perlu mengontrol pers, salah satunya adalah media watch. Lalu siapa pula yang mengontrol media watch? Makin banyak pihak yang mengawasi, makin baik tampilan yang diawasi. Sesama pengawas juga akan meningkatkan mutunya.

Ada yang selalu mengatakan, media watch itu untuk pemberdayaan masyarakat. Media watch tidak perlu ditujukan kepada media massa yang dikontrolnya. Mereka sudah punya bagian litbang di dalam manajemennya. Pendapat tersebut tidak salah. Tapi, akan lebih penting manakala kontrol media watch juga ditujukan kepada media yang dikontrolnya. Berapa banyak sebaran media watch yang ditujukan kepada masyarakat? Berapa besar hasil pemberdayaannya? Jumlahnya sangat sedikit. Jika hasil media watch juga ditujukan kepada media yang bersangkutan ditambah komunikasi yang intensif dengan pimpinan media itu, hasilnya akan lebih bermanfaat.

Sekelompok kecil pemerhati melakukan pengawasan terhadap media watch. Tampaknya media watch juga tidak lepas dari framing, sekecil apa pun penyimpangannya. Misalnya, Pantau agak radikal dan Jurnal Media Watch and Consumer Center (Habibie Center) agak ”menyenangkan” Republika.

Khalayak aktif yang sangat reaktif, tapi tanpa konsep literasi, dapat mengarah kepada tindakan yang brutal. Kita mendengar ada ormas pemuda yang menduduki kantor redaksi surat kabar di Surabaya (Jawa Pos). Ada pula yang datang beramai-ramai ke kantor redaksi lalu menuntut agar redaksi meminta maaf tiap hari dimuat surat kabar yang bersangkutan. Kasus ini melibatkan sejumlah sopir taksi terhadap pemberitaan surat kabar di Jakarta (Rakyat Merdeka). Juga tindakan Satgas PDI-P dan Banser pada Rakyat Merdeka menyangkut karikatur yang dimuatnya. Mereka, boleh jadi bukanlah khalayak aktif dalam arti yang benar. Sangat mungkin, mereka sama sekali tidak mengerti tentang literasi itu.

Orang-orang media watch adalah khalayak aktif dengan tingkat literasi yang tinggi. Mereka menerbitkan hasil pantauannya di dalam medianya yang sengaja dibuat untuk itu. Cukup banyak orang yang mengikuti media hasil media watch tersebut dan mengritisinya. Mereka ini termasuk khalayak super aktif.

Daftar Pustaka

De Fleur, Melvin L, Sandra Ball – Rokeach. 1988. Teori Komunikasi Massa. Kuala Lumpur: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka.

Djiwandono, J. Soedjati. 1994. “Analisis dan Strategi Kompetisi antar Media Massa” disampaikan pada Forum Diskusi Alternatif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atmajaya Yogyakarta.

MacBride,S,1983,AnekaSuara,SatuDunia,Jakarta: PNBalai Pustaka-Unesco.

Mahayana, Dimitri,1999,MenjemputMasaDepan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

McLuhan, Marshal, 1999,Understanding Media, The Extension OfMan.London: The MIT Press.

Mulyana,Deddy,1999,Nuansa-NuansaKomunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Piliang,YasrafAmir,2004,PosrealitasRealitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisik. Yogyakarta: Jalasutra.

Sendjaja, Sasa Djuarsa, 2000. “Paradigma Baru dalam Perkembangan Ilmu Komunikasi” disampaikan pada Orasi Ilmiah Dies Natalis Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Strinati, Dominic. 2003. Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Bentang.

Tester,Keith, 2003, diterjemahkan Muhammad Syukri, Media, Budaya,Moralitas.Yogyakarta: KerjasamaJuxtaposedan Kreasi Wacana.

PROSA LIRIK TAUFIK ISMAIL

PROSA LIRIK TAUFIK ISMAIL

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,
terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,
anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda,
pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping,
kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol
diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya,
dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar:
Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,
menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi
lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan
di pelabuhan dan bandara,
ketika pulang lihat mereka berdukacita
karena majikan mungkir tidak membayar gaji,
banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi,
kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.

Dulu penjajah kita satu negara,
kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa.
Mereka berdasi sutra,
ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.

Makin banyak kita meminjam uang,
makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,
begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet,
bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling,
jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.

Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang,
melimpah dari atas sampai ke bawah,
tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling
yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata,
bagian juga dari yang pegang senjata dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa,
asrama yatim piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta,
bertaubat nasuha
dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?

Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,
tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan
dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum,
berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini,
cukup jadi sebuah negara mini,
meliputi mereka yang pegang kendali perintah,
eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis,
yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi.
Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun
dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya,
jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita,
ada hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata,
tak sampai hati menegurnya.

Celakanya,
bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta,
lalu dimakruh-makruhkan
dan diam-diam berharap
semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia
dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah
Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya! ” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.

Jakarta, 2008

10 Kota Mati Yang Mengerikan Di Dunia

10 Kota Mati Yang Mengerikan Di Dunia

(Kontribusi Dari Berbagai Sumber)

Berikut ini adalah beberapa kota yang tidak berpenduduk sama sekali yang dikarenakan berbagai bencana sehinggga kota tersebut ditinggalkan penduduknya, kota-kota mati ini antara lain :

1. KOLMANSKOP (Namibia) : Dikubur dalam Pasir

Kolmanskop adalah sebuah kota mati di selatan Namibia, beberapa kilometer dari pelabuhan Luderitz. Di tahun 1908 Luderitz mengalami demam berlian, dan orang-orang kemudian menuju ke padang pasir Namib untuk mendapatkan kekayaan dengan mudah. Dalam dua tahun terciptalah sebuah kota yang megah lengkap dengan segala prasarananya seperti kasino, sekolah, rumah sakit, juga dengan bangunan tempat tinggal yang eksklusif yang berdiri di lahan yang dulunya tandus dan merupakan padang pasir.Tetapi setelah perang dunia pertama, jual beli berlian menjadi terhenti, ini merupakan permulaan berakhirnya semuanya. Sepanjang tahun 1950 kota mulai ditinggalkan, pasir mulai meminta kembali apa yang menjadi miliknya. Papan metal yang kokoh roboh, kebun yang cantik dan jalanan yang rapi dikubur dibawah pasir, jendela dan pintu bergeretak pada setiap engselnya, kaca-kaca jendela terpecah membelalak seperti menunjukan kehancuran pada hamparan pasir yang menjulang.

Sebuah kota mati baru telah dilahirkan, sampai saat ini masih nampak sepasang banguna yang berdiri, juga terdapat bangunan seperti sebuah teater masih dalam kondisi yang sangat baik, dan sisanya, rumah-rumah tersebut hancur digerus pasir dan menjadi deretan rumah-rumah hantu yang menakutkan.

2. PRYPIAT (Ukraine): Rumah para pekerja Chernobyl

Prypiat adalah sebuah kota besar di daerah terasing di Ukraina Utara, merupakan daerah perumahan para pekerja kawasan nuklir Chernobyl. Kawasan ini mati sejak terjadinya bencana nuklir Chernobyl yang menelan hamper 50.000 jiwa. Setelah kejadian, lokasi ini praktis seperti sebuah museum, menjadi bagian dari sejarah Soviet. Bangunan apartement (empat merupakan bangunan yang belum sempat ditempati), kolam renang, rumah sakit, dan banyak bangunan yang lain hancur. Dan semua isi yang terdapat dalam bangunan tersebut dibiarkan ada di dalamnya, seperti arsip, TV, mainan anak-anak, meubel, barang berharga, pakaian dan lain-lain semua seperti kebanyakan milik keluargakeluarga pada umumnya.

Penduduk hanya boleh mengambil dokumen penting, buku dan pakaian yang tidak terkontaminasi oleh nuklir. Namun sejak abad 21, tidak lagi ada barang berharga yang tertinggal, bahkan tempat duduk dikamar kecilpun dibawa oleh para penjarah, banyak dari bangunan yang isinya dirampok dari tahun ke tahun. Bangunan yang tidak lagi terawat, dengan atap yang bocor, dan bagian dalam bangunan yang tergenang air di musim hujan, semakin membuat kota tersebut benar-benar menjadi kota mati. Kita bisa melihat pohon yang tumbuh di atap rumah, pohon yang tumbuh di dalam rumah.

3. SAN ZHI (Taiwan): Tempat peristirahatan yang futuristik

Disebelah Utara Taiwan, terdapat sebuah kampong yang futuristic, pada awalnya dibangun sebagai sebuah tempat peristirahatan yang mewah bagi kaum kaya. Bagaimanapun, setelah terjadi banyak kecelakaan yang fatal pada masa pembangunannya akhirnya proyek tersebut dihentikan. Setelah mengalami kesulitan dana dan kesulitan para pekerja yang mau mengerjakan proyek tersebut akhirnya pembangunan resort tersebut benar-benar dihentikan ditengah jalan. Desas-desus kemudian bermunculan, banyak yang bilang kawasan kampung tersebut menjadi tempat tinggal para hantu, dari mereka yang sudah meninggal.

4. CRACO (Italy): Kota pertengahan yang mempesona

Craco terletak didaerah Basilicata dan provinsi Matera sekitar 25 mil dari teluk Taranto. Kota pertengahan ini mempunyai area yang khas dengan dipenuhi bukit yang berombak-ombak dan hamparan pertanian gandum serta tanaman pertanian lainnya. Ditahun 1060 ketika kepemilikan lahan Craco dimiliki oleh uskup Arnaldo pimpinan keuskupan Tricarico. Hubungan yang berjalan lama dengan gereja membawa pengaruh yang banyak kepada seluruh penduduk. Di tahun 1891 populasi penduduk Craco lebih dari 2000 orang, waktu itu mereka banyak dilanda permasalahan social dan kemiskinan yang banyak membuat mereka putus asa, antara tahun 1892 dan 1922 sekitar 1300 orang pindah ke Amerika Utara. Kondisi pertanian yang buruk ditambah dengan bencana alam gempa bumi, tanah longsor serta peperangan inilah yang menyebabkan mereka bermigrasi massal.

Antara tahun 1959 dan 1972 Craco kembali diguncang gempa dan tanah longsor. Di tahun 1963 sisa penduduk sekitar 1300 orang akhirnya dipindahkan ke suatu lembah dekat Craco Peschiera, dan sampai sekarang Craco yang asli masih tertinggal dalam keadaan hancur dan menyisakan kebusukan sisa-sisa peninggalan penduduknya.

5. ORADOUR-SUR- GLANE (France): the horror of WWII

Perkampungan kecil Oradour Sul Glane di Perancis menunjukan sebuah kondisi keadaan yang sangat mengerikan. Selama perang dunia ke II, 642 penduduk dibantai oleh tentara Jerman sebagai bentuk pembalasan atas terhadap perlakuan Perancis waktu itu. Jerman yang waktu itu sebenarnya berniat menyerang daerah di dekat Oradour Sul Glane tapi akhirnya mereka menyerang perkampungan kecil tersebut pada tanggal 10 Juni 1944. menurut kesaksian orangorang yang selamat, penduduk laki-laki dimasukan kedalam sebuah gudang dan tentara jerman menembaki kaki mereka sehingga akhirnya mereka mati secara pelan-pelan. Wanita dan anak-anak yang dimasukan ke dalam gereja, akhirnya semua mati tertembak ketika mereka berusaha keluar dari dalam gereja. Kampung tersebut benar-benar dihancurkan tentara Jerman waktu itu. Dan sampai saat ini reruntuhan kampung tersebut masih berdiri dan menjadi saksi betapa kejamnya peristiwa yang terjadi saat itu.

6. GUNKANJIMA (Japan): the forbidden island

Pulau ini adalah salah satu dari 505 pulau tak berpenghuni di Nagasaki Daerah Administratsi Jepang, sekitar 15 kilometer dari Nagasaki. Pulau ini juga dikenal sebagai “Gunkan Jima” atau pulau kapal perang. Pada tahun 1890 ketika suatu perusahaan (Mitsubishi) membeli pulau tersebut dan memulai proyek untuk mendapatkan batubara dari dasar laut di sekitar pulau tersebut. Di tahun 1916 mereka membangun beton besar yang pertama di pulau tersebut, sebuah blok apartemen dibangun untuk para pekerja dan juga berfungsi untuk melindungi mereka dari angin topan.Pada tahun 1959, populasi penduduk pulau tersebut membengkak, kepadatan penduduk waktu itu mencapai 835 orang per hektar untuk keseluruhan pulau (1.391 per hektar untuk daerah pusat pemukiman), sebuah populasi penduduk terpadat yang pernah terjadi di seluruh dunia.

Ketika minyak tanah menggantikan batubara tahun 1960, tambang batu bara mulai ditutup, tidak terkecuali di Gunkan Jima, di tahun 1974 Mitsubishi secara resmi mengumumkan penutupan tambang tersebut, dan akhirnya mengosongkan pulau tersebut. Pada tahun 2003 pulau ini dimbil sebagai setting film “Battle Royal II” dan mengilhami sebuah game popular “Killer7”.

7. KADYKCHAN (Russia): memories of the Soviet Union

Kadykchan merupakan salah satu kota kecil di Rusia yang hancur saat runtuhnya Uni Soviet. Penduduk terpaksa berjuang untuk mendapatkan akses untuk memperoleh air, pelayanan kesehatan dan juga sekolah. Mereka harus keluar dari kota itu dalam jangka waktu 2 minggu, untuk menempati kota lain dan menempati rumah baru. Kota dengan penduduk sekitar 12.000 orang yang rata-rata sebagai penambang timah ini dikosongkan. Mereka meninggalkan rumah mereka dengan segala perabotannya. Jadi anda dapat menemukan mainan, buku, pakaian dan berbagai barang didalam kota yang kosong.

8. KOWLOON WALLED CITY (China): A lawless city

Kota besar Kowloon yang terletak di luar Hongkong, China. Dulunya diduduki oleh Jepang selama perang dunia II, yang kemudian diambil alih oleh penduduk liar setelah Jepang menyerah. Pemerintahan Inggris ingin China bertanggung jawab terhadap kota ini, karena kota tersebut menjadi kota yang tidak beraturan dan tidak taat pada hukum pemerintah. Populasi tidak terkendali, penduduk membangun koridor lybirint yang setinggi jalan yang penuh tersumbat oleh sampah, bangunan yang sangat tinggi sehingga membuat cahaya matahari tidak bisa menyinari. Seluruh kota disinari dengan neon. Kota tersebut penuh dengan rumah pelacuran, kasino, rumah madat dan obat bius dan kokain, banyak terdapat makanan-makanan dari daging anjing dan juga terdapat pabrik-pabrik rahasia yang tidak terganggu oleh otoritas.Keadaan ini akhirnya berakhir ketika di tahun 1993, diambil keputusan oleh pemerintah Inggris dan otoritas China untuk menghentikan semua itu.

9. FAMAGUSTA (Cyprus): once a top tourist destination, now a ghost town

Varosha adalah sebuah daerah yang tidak diakui oleh republic Cyprus Utara. Sebelum tahun 1974 Turki menginvasi Cyprus, daerah ini merupakan daerah wisata modern di kota Famagusta. Pada tiga dekade terakhir, kota ini ditinggalkan dan menjadi kota mati. Di tahun 1970-an, kota ini menjadi kota tujuan wisata utama di Cyprus. Untuk memberikan pelayanan yang memuaskan kepada para wisatawan, kota ini membangun berbagai bangunan mewah dan hotel.

Ketika tentara Turki menguasai daerah tersebut, mereka menjaga dan memagari daerah tersebut, tidak boleh ada yang keluar masuk kota tersebut tanpa seijin dari tentara Turki dan tentara PBB. Rencana untuk kembali mengembalikan Varosha ke tangan kendali Yunani, namun rencana tersebut tidak pernah terwujud. Hampir selama 34 tahun kota tersebut dibiarkan dan tidak ada perbaikan. Perlahan bangunan-bangunan tersebut hancur, metal mulai berkarat, jedela pecah, dan akar-akar tumbuhan menembus dinding dan trotoar. Kura-kura bersarang di pantai yang ditinggalkan. Di tahun 2010 Pemerintahan Turki bermaksud untuk membuka kembali Varosha untuk para turis dan kota kembali bias didiami dan akan menjadi salah satu kota yang paling berpengaruh di uatara pulau.

10. AGDAM (Azerbaijan) : once a 150,000 city of people, now lost

Kota besar Agdam di Azerbaijan adalah salah satu kota besar yang populasi penduduknya mencapai 150.000 orang. Namun kemudian hilang setelah pada tahun 1993 sepanjang perang Nagorno Karabakh. Walaupun kota ini tidak secara langsung menjadi basis peperangan, namun kota ini tetap mendapatkan efek dari perang tersebut, dengan menjadi korban dari sikap para Armenians yang merusak kota tersebut. Bangunan-bangunan dirusak dan akhirnya ditinggalkan penghuninya, hanya menyisakan masjid-masjid yang masih utuh berdiri. Penduduk Agdam sendiri sudah berpindah ke area lain, seperti ke Iran.

MEREK DAN ANALISIS EKUITAS MEREK

MEREK DAN ANALISIS EKUITAS MEREK

Pengertian Merek:

  • label yang tepat dan layak untuk menggambarkan suatu objek yang dipasarkan
  • nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari keseluruhannya yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari penjual atau sekelompok penjual, agar dapat dibedakan dari kompetitornya (American Marketing Association/Kotler)
  • nama, istilah, simbol atau disain khusus atau beberapa kombinasi unsur-unsur ini yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang/jasa yang ditawarkan oleh penjual (Stanton)

Merek merupakan alat penanda bagi produsen bisa berupa nama, logo, trademark, atau berbagai bentuk simbol lainnya yang berguna untuk membedakan satu produk dengan produk lainnya, juga akan mempermudah konsumen dalam menganali dan mengidentifikasi suatu produk.


Peran Merek

  • menjadi alat kunci bagi pelanggan dalam menetapkan pilihan pembelian karena menggambarkan value yang ditawarkan perusahaan
  • Merupakan ‘payung dari keseluruhan strategi pemasaran yang dijalankan

strategi pemasaran apapun sesungguhnya merupakan bagian dari keseluruhan upaya perusahaan membangun merek

The ultimate achievement dari upaya pemasaran adalah merek (Kertajaya)

  • Merupakan representasi atas produk dan layanan, inti dari aktivitas komunikasi pemasaran

merupakan janji dari produsen untuk secara konsisten terus menyampaikan seperangkat keistimewaan, keuntungan, dan pelayanan kepada konsumen.

 

Tingkatan Pengertian Merek:

1. Atribut: setiap merek memiliki atribut

Atribut perlu dikelola dan diciptakan agar pelanggan dan mengetahui dengan pasti atribut-atribut yang terkandung dalam merek

2. Manfaat: merek juga memiliki serangkaian manfaat

Konsumen tidak hanya membeli atribut tetapi juga manfaat. Produsen harus menterjemahkan atribut menjadi manfaat fungsional maupun manfaat emosional

3. Nilai: menyatakan suatu nilai bagi produsen

Merek yang mempunyai nilai yang tinggi dipandang sebagai merek yang berkelas (berkualitas) à merupakan ‘value indicator’ sebuah produk

4. Budaya: merek mewakili budaya tertentu

Merek dapat mencerminkan budaya dari masyarakat tertentu. Misal produk Mercedez buatan Jerman mencerminkan produk dengan cara kerja efisien dan berkualitas tinggi

5. Kepribadian: merek memiliki kepribadian

Merek juga dapat merepresentasikan kepribadian tertentu dari konsumennya

6. Pemakai: menunjukkan jenis pemakai merek tersebut

Merek seringkali diasosiasikan dengan orang-orang tertentu yang terkenal (public figure)

Persyaratan Merek

1. Merek harus khas atau unik

2. Merek harus menggambarkan manfaat produk dan pemakaiannya

3. Merek harus menggambarkan kualitas produk

4. Merek harus mudah diucapkan, dikenali, dan diingat

5. Merek tidak boleh mengandung makna buruk pada budaya tertentu

6. Merek harus dapat menyesuaikan diri dengan produk-produk baru yang mungkin ditambahkan ke dalam lini produk


Manfaat Merek

Dari sisi Konsumen:

1. Merek dapat mempermudah pembelian

konsumen tidak perlu mengidentifikasi atau mengevalusi setiap produk ketika akan melakukan pembelian

2. Merek dapat memperteguh keyakinan

konsumen yakin terhadap kualitas yang konsisten dari produk tertentu.

Dari sisi Produsen:

1. Merek dapat dipromosikan

2. Merek dapat dipakai untuk mengurangi perbandingan harga

3. Merek memudahkan penjualan dan menekan adanya permasalahan

4. Merek secara hukum melindungi produsen dari pemalsuan produk

5. Merek memungkinkan terciptanya kesetiaan konsumen

6. Merek dapat membantu proses segmentasi

7. Merek merepresentasikan citra perusahaan

EKUITAS MEREK DAN ANALISIS EKUITAS

Ekuitas merek:

kekuatan sebuah merek: seberapa banyak konsumen yang mampu mengingat merek, menganggap merek positif, dan memiliki loyalitas terhadap merek.

pengenalan konsumen terhadap sebuah merek beserta asosiasi merek yang mendukung, kuat dan unik

merek yang kuat mempunyai nilai ekuitas yang tinggi

Ekuitas merek tinggi, berarti:

- daya tarik produk tinggi

- minat konsumen untuk membeli juga tinggi

- perusahaan mudah menciptakan pasar baru

- strategi komunikasi pemasaran lebih unggul

- menguasai pasar lebih lama

Manfaat Pengukuran Ekuitas Merek:

1. Hasil pengukuran dapat digunakan sebagai benchmark terhadap market leader dan atau kompetitor lain.

2. Hasil pengukuran dapat dijadikan guidance untuk penyusunan strategi komunikasi pemasaran

3. Membantu dalam pelaksanaan manajemen perusahaan.

Dimensi-Dimensi Ekuitas Merek

  1. Kesadaran Merek (Brand Awareness)

seberapa nama merek mampu disebutkan oleh konsumen atau kemampuan sebuah merek untuk muncul dalam benak konsumen ketika mereka sedang memikirkan kategori produk tertentu

Mencakup:

Pengenalan terhadap merek (brand recognition): mencerminkan tingkat kesadaran yang dangkal

- Kemampuan mengingat merek (brand recall): mencerminkan kesadaran yang lebih dalam

  1. Citra Merek (Brand Image)

jenis asosiasi yang muncul pada konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu.

Jenis asosiasi mencakup:

1. Atribut

Hal-hal yang berhubungan dengan produk: warna, ukuran, disain

Hal-hal yang tidak berhubungan dengan produk: harga, kemasan, pemakai, citra penggunaan.

Manfaat

berkaitan dengan keuntungan yang diperoleh konsumen dari konsumsi merek.


Jenis manfaat:

1. Manfaat fungsional: produk dapat me3nyediakan solusi bagi masalah konsumsi atau potensi masalah yang dihadapi konsumen, seperti kenyamanan atau keamanan

2. Manfaat simbolis: berkaitan dengan keinginan konsumen dalam upaya memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota kelompok, afiliasi, dan rasa memiliki à asosiasi kegunaan merek dengan kelompok, peran, atau citra diri yang diinginkan.

3. Manfaat pengalaman: konsumen merupakan representasi dari keinginan mereka akan produk yang dapat memberikan rasa senang, pengalaman baru, keanekaragaman, dan stimulasi kognitif.

4. Evaluasi keseluruhan (sikap)

evaluasi yang memuaskan secara keseluruhan terhadap suatu merek atau sikap yang mendukung terhadap suatu merek.

  1. Loyalitas Merek (Brand Loyalti)

sikap senang terhadap produk yang direpresentasikan dalam bentuk pembelian yang konsisten terhadap merek sepanjang waktu.

menjadi dasar untuk memprediksi seberapa besar kemungkinan konsumen pindah ke merek lain.

penciptaan dan peningkatan loyalitas merek akan menghasilkan peningkatan nilai-nil;ai kepercayaan terhadap merek

Berkaitan dengan loyalitas merek, perlu dicermati adanya 5 kategori pembeli:

1. Switcher/price buyer

pembeli yang berpindah-pindah, pada umumnya berkaitan dengan faktor harga

2. Habitual buyer

pembeli yang bersifat kebiasaan, tidak pernah mengalami ketidakpuasaan dalam mengkonsumsi produk, biasanya berkaitan dengan preferensi, budaya.

3. Satisfied buyer

pembeli yang puas dengan merek yang mereka konsumsi, mempunyai pertimbangan yang lebih rasional ketika memilih merek

4. Likes the brand buyer

pembeli yang sungguh-sungguh menyukai merek tertentu. Rasa suka didasari oleh asosiasi yang berkaitan dengan pengalaman menggunakan merek itu dan juga merek lain sebelumnya.

5. Commited buyer

pembeli setia/mempunyai komitmen, merupakan tingkatan teratas dalam kategori pembeli dalam loyalitas merek. Mereka bangga dalam menggunakan merek tertentu.

KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU

KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU

(INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION)

IMC (Integrated Marketing Communication) adalah sebuah konsep dari perencanaan komunikasi pemasaran yang memperkenalkan nilai tambah dari rencana komprehensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplin komunikasi—misalnya periklanan umum, respon langsung, sales promotion, dan PR—dan mengombinasikan disiplin-disiplin ini untuk memberikan kejelasan, konsistensi dan dampak komunikasi yang maksimal.

Secara sederhana-nya IMC dapat diartikan sebagai “Proses dari pengelolaan customer relationships yang menggerakkan brand value.” Sedangkan secara spesifik, IMC dapat diartikan sebagai “proses yang mempunyai fungsi bersilang dalam menciptakan dan memelihara hubungan yang menguntungkan dengan customer dan stakeholder lainnya dengan mengontrol dan mempengaruhi secara strategis semua pesan yang terkirim kepada kelompok ini serta menggerakkan dialog dengan maksud tertentu kepada mereka.”

Integrated Marketing Communication (IMC) adalah satu dari sekian proses yang tersedia guna membina hubungan dengan customer. Apa yang membedakan IMC dengan proses customer-centric lainnya adalah dasar dari proses tersebut adalah komunikasi, yang merupakan jantung dari semua hubungan, dan juga merupakan proses yang sirkuler.

Seperti yang sudah disebutkan diatas, konsep dasar dari IMC adalah komunikasi. Dengan komunikasi ini, IMC berusaha untuk memaksimalkan pesan positif dan meminimalkan pesan negatif dari suatu brand, dengan sasaran menciptakan dan menyokong brand relationship. Untuk membangun hubungan jangka panjang, IMC juga digunakan untuk membangun dan memperkuat brand. Brand relationship yang positif juga akan menghasilkan keuntungan dan meningkatkan nilai dari pemegang saham perusahaan tersebut.

Semakin banyaknya istilah IMC yang dipakai oleh para praktisi dan pakar pendidikan, namun tidak ada istilah yang benar-benar disetujui tentang apakah IMC itu? Tapi ada dua ide pokok mengenai IMC:

1. Komunikasi pemasaran yang bersifat one-voice. Maksudnya adalah, walaupun elemen komunikasi pemasaran yang digunakan berbeda-beda dalam meraih konsumen namun semua itu harus dapat dikoordinasi dengan cara yang tepat oleh berbagai organisasi dan agensi yang bekerja pada elemen-elemen yang berbeda tersebut

2. Komunikasi yang berintegrasi. Komunikasi disini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan brand awareness atau pencitraan produk yang baik saja, namun juga harus dapat menimbulkan hasil penjualan yang baik.

FILOSOFI IMC DALAM PERSPEKTIF PEMASARAN DAN KOMUNIKASI

Perspektif Komunikasi.

Lagi, seperti yang sudah diuraikan diatas, fondasi yang penting dari IMC merupakan komunikasi—pengiriman dan penerimaan pesan. Seperti halnya kita berkomunikasi dengan teman, kita secara sadar ataupun tidak, menggunakan kata-kata, aksi, gerak tubuh, bahkan mimik muka tertentu. Ketika kita berkomunikasi dengan ortu atau guru, mungkin strategi komunikasi kita akan cenderung serius. Tetapi jika kita berkomunikasi dengan sahabat, pesan yang disampaikan mungkin akan lebih fleksibel, dan bahkan terkesan konyol. Tetapi, walaupun kita mengirimkan berbagai jenis pesan kepada berbagai jenis orang, semua isi pesan yang datang dari kita mempunyai konsistensi yang membuat penerimanya tahu bahwa pesan ini datang dari kita, bukan dari orang lain. Dalam IMC pun, konsistensi juga diperlukan agar brand image dapat menancap kuat dalam benak konsumen.

Dalam prakteknya, IMC tidak jauh berbeda dengan hubungan personal. Memilih suatu brand, sama halnya dengan memilih teman. Kita mempunyai banyak pilihan yang harus dipertimbangkan. Terkadang kita lebih memilih berteman dengan orang yang biasa-biasa saja tapi pengertian dibandingkan dengan orang yang populer tapi egois, bukan? Sama halnya IMC dari perspektif komunikasi, kadang pilihan kita terhadap suatu brand tergantung dari apa yang dikomunikasikannya kepada kita. Misalnya: kita memilih bank X karena tagline-nya yang berbunyi “melayani dengan senyum” disertai dengan pelayanan dari teller-nya yang benar-benar ramah dan dengan senyuman. Bahkan menurut penelitian dari customer yang meninggalkan brand tertentu, 70 persen-nya mengatakan bahwa alasan mereka meninggalkan brand itu bukan karena produk/jasanya yang kurang memuaskan, tetapi dikarenakan bagaimana cara mereka memperlakukan customer kurang memuaskan.

Perspektif Pemasaran

Untuk mengerti IMC, kita harus memahami pengertian dasar dari pemasaran, karena fungsi-fungsi IMC sendiri berada dibawah payung pemasaran. Seperti halnya pemasaran, IMC sendiri merupakan konsep sekaligus proses. Dalam konsepnya, IMC menciptakan customer dan brand equity; sedangkan dalam prosesnya me-manage hubungan jangka panjang dengan customer.

Dalam IMC, kita memadukan fungsi-fungsi pemasaran seperti advertising, personal selling, sales promotion, PR, dsb. guna menciptakan dan memelihara suatu brand relationships. Untuk menciptakan suatu brand relationships yang baik, maka diperlukan penciptaan brand message yang baik pula. Sekali lagi, untuk menciptakan brand message yang baik itu, maka fungsi-fungsi pemasaran harus berjalan terpadu dan tidak saling kontradiksi. Misalnya: ketika kita mengiklankan produk parfum untuk kalangan wanita elit, maka pengemasan parfumnya harus dibuat dengan kesan mewah juga. Nah, ketika brand relationship terpelihara dengan baik, maka dengan sendirinya customer akan memilih brand kita, dan akan meningkatkan penjualan serta meraih untung kelak. Secara otomatis, dengan IMC itulah, maka tujuan dari pemasaran, yakni supaya customer mengenal dan mau membeli produk kita, telah tercapai.

KONSEP DASAR PENGEMBANGAN BERBAGAI PROGRAM IMC

1. DIRECT MARKETING

Disaat perusahaan ingin berhubungan langsung dengan customer tanpa melalui retailer, maka digunakanlah direct-response marketing, seperti: close-loop, interactive, database-driven messaging system yang menggunakan banyak jenis media untuk menciptakan respon behavioral.

Direct marketing merupakan salah satu fungsi IMC yang terdiri dari front-end dan back end operations. Front-end menyusun harapan-harapan dari konsumen yang mencakup the offer (yakni segala sesuatu yang nyata maupun tidak dijanjikan oleh perusahaan guna mencapai perilaku customer yang diinginkan perusahaan, misal: penawaran harga khusus, garansi, dll), the database (mendapatkan data customer-nya dan menggunakan data itu untuk penawaran selanjutnya) dan the response (memberikan respon yang baik terhadap customer, misal: dengan membuat toll-free-line untuk layanan customer) sedangkan back end berusaha mempertemukan harapan konsumen dengan produk, mencakup fulfillment (yakni membuat produk atau informasi yang diminta oleh konsumen cocok, efektif dan tepat waktu).

2. SALES PROMOTION

Sales promotion merupakan istilah singkat dari penawaran nilai tambah yang dirancang untuk menggerakkan dan mempercepat respons dari customer. Contoh dari nilai tambah itu sendiri adalah “kesempatan untuk memenangkan hadiah”, potongan harga (seperti diskon 20 %, sale 50 % off, dsb.), produk ekstra (seperti “isi teh kotak 30% lebih banyak”), sample gratis dan premiums (misalnya beli rinso dapat piring cantik)

Pada konsepnya, Sales promotion digunakan untuk memotivasi customer agar melakukan aksi dengan membeli produk yang dipicu dengan adanya penawaran produk dalam jangka waktu terbatas.

3. PUBLIC RELATIONS/MPR.

PR dalam konsepsi IMC melakukan pekerjaan yang sangat luas dan beragam, tidak hanya bertugas men-track opini publik saja, tetapi juga bertugas me-manage corporate brand dan menjaga reputasinya.

Lalu MPR merupakan salah satu fungsi PR yang digunakan sebagai media tanpa bayar untuk menyampaikan brand information guna mempengaruhi calon customer atau customer secara positif. MPR sendiri lebih fokus kepada customer atau calon customer dan melengkapi strategi marketing yang lain dengan 4 cara: (1) meningkatkan kredibilitas brand message; (2) menyampaikan message sesuai targetnya berdasarkan aspek demografis, psikografis, etnik atau khalayak secara regional; (3) mempengaruhi opinion leader atau trendsetter yang berpengaruh; (4) melibatkan customer dan stakeholder lainnya pada event spesial.

4. PERSONAL SELLING

Personal Selling adalah komunikasi dua arah dimana seorang penjual menjelaskan fitur dari suatu brand untuk kepentingan pembeli. Dalam Personal Selling, dilibatkan komunikasi yang sifatnya tatap muka dan kegiatannya pada sekaramg ini terfokus pada pemecahan masalah dan penciptaan nilai bagi customer (lebih dikenal sebagai partnership) Dimensi dari partnership ini adalah, seorang salesperson harus memahami customer-nya dengan baik.

Personal selling sendiri merupakan bagian dari direct marketing, namun perbedaan dasarnya adalah dalam personal selling, perusahaan yang dijembatani salesperson berinteraksi secara tatap muka dengan customer.

5. ADVERTISING

Advertising merupakan “Suatu bentuk dari presentasi non-personal dan promosi dari suatu ide, barang atau jasa yang tidak gratis (berbayar) dan dilakukan oleh sponsor (perusahaan) yang teridentifikasi. Karakteristik dari iklan sendiri adalah bersifat non-personal, komunikasi satu arah, ada sponsor (khalayak yang peduli), dan bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku.

Biasanya advertising itu dipakai ketika suatu perusahaan ingin mengubah customer dari unaware, menjadi aware terhadap suatu brand.

6. PUBLICITY

Publicity sendiri merupakan salah satu jasa yang disediakan oleh Public Relations Firm maupun Advertising Agency. Publicity timbul untuk membantu menangkap perhatian publik dan membedakan tiap-tiap perusahaan tersebut dari perusahaan-perusahaan lain yang menjadi saingannya. Publicity dalam MPR berarti memeproleh penyebutan nama merek di media massa dalam cara-cara yang berbeda, waktu dan tempat sesering mungkin sehingga menjadi top-of mind awareness. Walaupun PR menawarkan kredibilitas yang lebih besar dalam membangun publicity, namun advertsing dapat menawarkan awareness dan kontrol yang lebih besar. Lalu untuk beberapa alasan, maka sejumlah perusahaan menyampaikan pesan PR mereka lewat advertising.

7. EVENTS/SPONSORSHIP

Event marketing adalah situasi yang signifikan atau peristiwa promosional yang mempunyai fokus utama untuk menangkap perhatian dan melibatkan customer dalam event tersebut. Perusahaan dan organisasi-organisasi non-profit menggunakan events dengan beberapa alasan, yaitu: untuk melibatkan sasaran khalayak, untuk mengasosiasikan sebuah brand dengan aktivitas, gaya hidup atau orang-orang tertentu, untuk meraih sasaran khalayak yang sulit dijangkau, untuk meningkatkan brand awareness dan untuk menyediakan platform yang baik bagi brand publicity.

Sponsorship adalah dukungan finansial kepada suatu organisasi, orang, atau aktivitas yang dipertukarkan dengan publisitas merek dan suatu hubungan. Sponsorship dapat membedakan sekaligus meningkatkan nilai suatu merek. Beberapa pedoman yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dalam memilih sponsorship: target khalayak, penguatan citra merek, dapat diperpanjang, keterlibatan merek, biaya yang efektif dan sponsor lainnya.

8. INTERACTIVE MARKETING

Interactive marketing disini lebih tertuju kepada bagaimana suatu perusahaan mampu atau tidak berkomunikasi dengan customer-nya atau mampu memberikan solusi yang baik, yang terkait dengan penggunaan produk. Dalam hal ini interactive marketing juga terkait dengan customer relationship management.

SINERGITAS DAN KEMITRAAN PERENCANAAN PROGRAM

SINERGITAS DAN KEMITRAAN PERENCANAAN PROGRAM

PEMBANGUNAN KESEHATAN DI JAWA BARAT

(THE SYNERGY AND PARTNERSHIP OF HEALTH DEVELOPMENTAL PROGRAM IN JAWA BARAT)

Oleh: Slamet Mulyana

Abstrak

Kompleksitas permasalahan kesehatan memerlukan penanganan yang terpadu, seluruh stakeholder yang terkait dengan bidang kesehatan perlu bekerja secara bersama-sama, saling membantu, saling berkomunikasi, saling bersinergi dan saling mengisi sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Tujuan kajian ini adalah tersusunnya perencanaan pembangunan bidang kesehatan guna tercapainya percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan lainnya yang mendukung kesehatan individu, keluarga dan masyarakat

Berdasarkan hasil analisis terhadap program dan kegiatan, terindikasi beberapa program dan kegiatan yang dapat dikerjakan secara sinergis dengan melibatkan dinas/instansi yang terkait. Hasil analisis menunjukkan terdapat program dan kegiatan DIBALE memberikan kontribusi secara langsung dan tidak langsung terhadap pembangunan kesehatan lingkungan. Untuk kesinergisan program dan kegiatan tersebut, perlu meningkatkan koordinasi lintas program, lintas sektor, dan melibatkan mitra-mitra potensial lainnya.

Abstract


The complexity of health problems needs a comprehensive handling, and it is a must that all of the related stakeholders work together hand in hand, commnunicates, and strengthen each other in order to fulfill their duties and funtion.


The aim of this study is to compile a health developmental planning in order to achieve an acceleratin, effectivity, and efficiency of the health efforts and other developmental efforts that support the individual, family, and community health.


Based on the analysis of the program and activities, it is indicated that some programs and activities can be done synergically by involving the related instances.The result shows that there are some DIBALE programs and activities that contributed to the developmental of environmental health, directly or indirectly.In order for that programs and activities to run synergically, we need to increase the coordination between program, sectoral cross, and involving other potential partners.

1.1 LATAR BELAKANG

Status kesehatan individu, keluarga dan masyarakat bersifat multifaktorial karena merupakan hasil interaksi berbagai faktor determinan, baik faktor internal (faktor fisik dan psikis) maupun faktor eksternal (lingkungan fisik, lingkungan sosial, politik, ekonomi, sosial, budaya masyarakat, pendidikan). Karena sifat derajat kesehatan yang multifaktorial tersebut, maka setiap kegiatan yang ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat perlu memperhatikan aspek faktor determinan kesehatan tersebut. Selain itu setiap upaya atau kegiatan kesehatan tersebut perlu dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi aktif stakeholders dan seluruh potensi masyarakat Hal ini bukan berarti semua stakeholder harus mempunyai program-program kesehatan, namun hendaknya dalam setiap kebijakan program sektor non kesehatan juga memperhatikan dan mempertimbangkan kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Pembangunan kesehatan di Jawa Barat telah diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, kualitas sumberdaya manusia serta kualitas kehidupan. Namun karena beratnya beban dan kompleksnya permasalahan kesehatan serta terkaitnya masalah kesehatan masyarakat dengan berbagai faktor determinan, maka dari sejumlah indikator derajat kesehatan yang ada, ternyata permasalahan kesehatan masih menjadi sisi krusial di Jawa Barat. Kompleksitas permasalahan kesehatan memerlukan penanganan yang terpadu, seluruh stakeholder yang terkait dengan bidang kesehatan perlu bekerja secara bersama-sama, saling membantu, saling berkomunikasi, saling bersinergi dan saling mengisi sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Masih rendahnya kualitas hidup Ibu dan Anak, tingginya angka kesakitan penyakit infeksi, permasahan kesehatan yang terkait dengan emerging, reemerging dan new emerging disease , kondisi hygiene dan sanitasi yang masih mengkhawatirkan, kemiskinan penduduk, kekeliruan dalam berparadigma dan perilaku hidup sehat, merupakan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh Propinsi Jawa Barat khususnya dalam bidang kesehatan.

Mengingat berbagai permasalahan kesehatan di Jawa Barat seperti yang telah diuraikan tersebut di atas, maka diperlukan adanya suatu upaya bersama yang ditujukan untuk mengembangkan : (1) kualitas lingkungan (baik lingkungan fisik, lingkungan biologik, serta lingkungan ekonomi dan sosial) ; (2) perilaku yang sehat yaitu perilaku proaktif dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit dan berperan aktif dalam gerakan sehat serta upaya yang ditujukan untuk (3) meningkatkan status gizi masyarakat . Kesemua upaya tersebut haruslah merupakan suatu upaya yang terintegrasi dengan bidang lainnya karena adanya keterkaitan yang erat antara kesehatan dengan stakeholder lainnya diluar bidang kesehatan.

Dengan demikian diperlukan suatu kajian yang akan dapat menghasilkan suatu perencanaan pembangunan kesehatan yang terpadu yang dapat mensinergikan seluruh upaya yang telah dilakukan oleh stakeholder terkait untuk bersama-sama menciptakan lingkungan fisik, biologis, sosial dan ekonomi yang berkualitas agar masyarakat dapat berperilaku hidup sehat dan hidup produktif.

1.2 TUJUAN KAJIAN

Secara keseluruhan tujuan yang diharapkan dari kajian yang dilakukan ini adalah tersusunnya perencanaan pembangunan bidang kesehatan guna tercapainya percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan lainnya yang mendukung kesehatan individu, keluarga dan masyarakat

1.3 KERANGKA PIKIR

Masalah kesehatan merupakan tanggung jawab bersama setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta. Walaupun bidang kesehatan menjadi leading sector dalam pembangunan kesehatan namun dalam mengimplementasikan kebijakan dan program intervensi harus bermitra dan bersinergi dengan stakeholder terkait lainnya. Semua stakeholder baik secara langsung maupun yang tidak langsung terkait dengan peningkatan status kesehatan individu, keluarga dan masyarakat harus memasukkan pertimbangan kesehatan dalam semua kebijakan pembangunannya (health public policy). Hal ini berarti semua kegiatan yang dilakukan stakeholder masing-masing dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan lingkungan dan perilaku sehat.

Sinergitas program dan Kemitraan sangat diperlukan mengingat untuk merealisasikan Visi dan Misi Jawa Barat Sehat 2008 tidak mungkin hanya dibebankan pada sektor kesehatan saja karena masalah kesehatan adalah mura dari semua sektor pembangunan. Dengan adanya kemitraan diantara stakeholder terkait maka diharapkan dapat :

1. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi untuk memenuhi kewajiban peran masing-masing stakeholder terkait dalam pembangunan kesehatan.

2. Meningkatkan kemampuan bersama dalam menanggulangi masalah yang berhubungan dengan kesehatan untuk ke-mashlahatan bersama.

Untuk mengetahui peran masing-masing stakeholder dalam pembangunan bidang kesehatan maka perlu disusun suatu perencanaan yang akan mengidentifikasi beberapa alternatif peran yang dapat dilakukan sesuai dengan :

1. Permasalahan kesehatan pada kelompok sasaran yang terkait dengan komitmen global maupun komitmen nasional , seperti imunisasi, TB paru, HIV AIDS, Kesehatan ibu dan anak, KB, perbaikan gizi, pemberantasan beberapa penyakit menular

2. Permasalahan kesehatan pada kelompok sasaran yang bersifat lokal spesifik seperti :

a. Masalah terkait dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial, ekonomi,dan budaya

b. Masalah terkait dengan perilaku yang tidak sehat

c. Masalah kesehatan masyarakat miskin

d. Masalah kesehatan kelompok masyarakat tertentu

Permasalahan kesehatan muncul karena terganggunya determinan kesehatan sehingga perlu dilakukan identifikasi faktor determinan apa saja yang terkait dengan permasalahan kesehatan tersebut. Dari hasil analisis ini diharapkan dapat dipetakan hubungan antara masalah kesehatan dengan faktor (determinan) kesehatan, sehingga penyebab permasalahan kesehatan pada kelompok sasaran di wilayah masing-masing dapat lebih teridentifikasi. Beberapa faktor determinan yang langsung mempengaruhi status kesehatan tersebut adalah genes, disease experience, health and well being of populations, health system influences, global and ecological perspective, social, cultural and environmental determinants, gender perspective dan public health perspective (Detels & Beaglehole, 2002)

Memperhatikan kompleksnya permasalahan kesehatan serta faktor determinan kesehatan seperti tersebut di atas tidak mungkin masalah tersebut dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri tanpa melibatkan stakeholder. Untuk mengatasi berbagai permasalahan kesehatan tersebut perlunya koordinasi baik lintas program maupun dengan stakeholder terkait melalui mekanisme tertentu sehingga dalam pelaksanaan kegiatan dapat terpadu. Keterpaduan yang diharapkan adalah meliputi berbagai aspek mulai dari Aspek kegiatan, Aspek ketenagaan, Aspek pendanaan maupun Aspek sarana/prasarana.

Dalam koordinasi tersebut perlu ditetapkan hubungan antara stakeholder terkait apakah bersifat hubungan vertikal, hubungan horizontal, komando, koordinasi maupun hubungan kemitraan.

Adapun alternatif peran yang dapat diambil untuk mengatasi permasalahan kesehatan tersebut berkaitan dengan upaya kemitraan adalah peran sebagai :

· Inisiator , yaitu yang memprakarsai kemitraan dalam rangka sosialisasi dan operasionalisasi program-program kesehatan

· Motor/dinamisator, yaitu sebagai penggerak kemitraan, melalui pertemuan, kegiatan bersama, dll.

· Fasilitator, yaitu pihak yang memfasiltasi, memberi kemudahan sehingga kegiatan kemitraan dapat berjalan lancar.

· Anggota aktif yang akan berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif.

· Peserta kreatif, yaitu sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif.

· Pemasok input teknis, yaitu sebagai pemberi masukan teknis (program kesehatan).

· Pemberi dukungan sumber daya : memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada

Apabila penanganan permasalahan kesehatan yang disertai dengan perbaikan terhadap faktor determinan kesehatan dilakukan secara sinergis diantara stakeholder terkait maka diharapkan dapat tercapai percepatan, efektivitas dan efisiensi demi terciptanya : (Chu, 1994)

· A clean, safe physical environment of high quality (including housing quality)

· An ecosystem that is stable now and sustainable in the long term

· A strong mutually supportive and non-exploitive community

· A high degree of participation and control by the public over the decision affecting their lives, health and wellbeing

· The meeting of basic needs for all the city’s people (for food, water, shelter, income, safety, and work)

· Access to a wide variety of experiences and resources, with the chance for wide variety of contact, interaction and communication.

· A diverse, vital and innovative city economy

· The encouragement of connectedness with the past, with the cultural, with other groups and individuals

· A form that is compatible with and enhances the preceding characteristics

· An optimum level of appropriate public health and sick care services accessible to all

· High health status ( high levels of positive health and low levels of disease).

1.4 METODE KAJIAN

Beberapa metode kajian dikembangkan untuk mendapatkan pengembangan perencanaan pembangunan kesehatan yang sinergis dan terpadu. Telaah dilakukan terhadap data yang berkaitan dengan berbagai kebijakan dan peraturan pemerintah yang terkait dengan pembangunan kesehatan. Penelahaan juga dilakukan terhadap berbagai program pembangunan untuk diidentifikasi mana saja program yang telah atau belum mendukung terciptanya kualitas lingkungan dan perilaku hidup sehat tseperti yang diharapkan.

Model perencanaan yang dikembangkan tersebut harus mampu diterapkan atau diaplikasikan dalam setiap bidang pembangunan. Model harus memberikan kerangka, mulai dari penyusunan kebijakan, program, perencanaan kegiatan dan rencana output, pelaksanaan dan outcome yang disusun pada setiap bidang.

Oleh karena itu dalam kajian ini dilakukan telaah terhadap informasi yang berasal dari :

a) Laporan rutin Pemerintah Daerah ( Daerah Dalam Angka )

b) Laporan rutin RS (SP2RS)

c) Hasil dari berbagai rapid survey

d) Hasil dari Surveillans Epidemiologi

e) Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga, Survei Sosial Ekonomi Daerah, Survei Keluarga Sejahtera BKKBN

f) Hasil Mapping Gizi

Selanjutnya juga diperlukan Indepth interview dengan stakeholer penyusun perencanaan pembangunan dalam rangka menggali masalah-masalah pembangunan yang memberikan dampak terhadap kesehatan.

Analisis yang menggunakan kerangka pendekatan siklus hidup manusia dengan memperhatikan “the determinant of health population” dari Detels & Beaglehole (2002) ini dilakukan dengan metode :

1. Analisis pembandingan

2. Analisis kecenderungan (trend)

3. Analisis epidemiologi

1.5 HASIL KAJIAN

Permasalahan yang terjadi pada determinan kesehatan dapat menghambat upaya pembangunan bidang kesehatan dalam mencapai IPM Jabar 80. Dari berbagai model determinan kesehatan yang ada, faktor lingkungan (fisik maupun non fisik) merupakan determinan kesehatan utama disamping faktor determinan lainnya seperti perilaku, pelayanan kesehatan, gender, kultur, genetik.

Hasil penelitian WHO di berbagai negara membuktikan bahwa angka kematian, angka kesakitan yang tinggi, dan seringnya terjadi wabah/KLB, selalu terjadi di tempat-tempat dengan kondisi higiene dan sanitasi lingkungannya yang buruk. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa dengan diperbaikinya higiene dan sanitasi lingkungan maka angka kematian/kesakitan dan timbulnya wabah berkurang dengan sendirinya.

Permasalahan kesehatan berbasis lingkungan pada sasaran berdasarkan siklus hidup manusia dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Kelompok bayi usia 28 hari – 11 bulan dan balita

AKB menunjukkan penurunan selama 3 tahun terakhir, namun masih terdapat Kab/Kota di Jabar yang memiliki AKB dengan katagori tinggi. Dari pola kematian bayi rawat inap di Rumah Sakit ataupun pola rawat jalan di Puskemas/Rumah Sakit dapat terlihat bahwa penyebab kematian/kesakitan bayi pada umumnya adalah karena ISPA (pnemonia) dan diare. Sampai dengan tahun 2003 AKABA (64.67 ) masih berada jauh diatas angka nasional (44.71), dengan penyebab kematian terbesar karena meningitis, diare pnemonia. Persentase penyakit-penyakit berbasis lingkungan sebagai penyebab kematian/kesakitan bayi dan balita ternyata cukup tinggi. Bayi/balita yang memiliki resiko terkena diare adalah yang tinggal di keluarga dengan kondisi fisik rumah yang tidak baik, atau di daerah rawan banjir. Sedangkan bayi/balita yang memiliki resiko terkena ISPA bayi/balita yang tinggal dengan keluarga dengan status ekonomi miskin, tinggal di sekitar lokasi industri dan terkena gangguan asap dari pabrik, serta yang tinggal di daerah rawan banjir.

2. Kelompok usia anak sekolah

Secara epidemiologis penyebaran penyakit berbasis lingkungan di kalangan anak usia sekolah masih tinggi. Misalnya, demam berdarah dengue, diare, cacingan, infeksi saluran pernapasan akut, serta keracunan makanan akibat buruknya sanitasi dan keamanan pangan. Selain itu risiko gangguan kesehatan pada anak akibat pencemaran lingkungan dari pelbagai proses kegiatan pembangunan makin meningkat. Seperti makin meluasnya gangguan akibat paparan asap, emisi gas buang sarana transportasi, kebisingan, limbah industri dan rumah tangga.

3. Kelompok ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui, ibu nifas

AKI di Jawa Barat dalam kurun waktu 1992-2003 tampak menunjukkan penurunan yang berarti. AKI pada tahun 1992 masih di atas angka nasional yaitu 420 orang dari 100.000 kelahiran dan ternyata pada tahun 2003 sebesar 321,15 per 100.000 kelahiran hidup. Walaupun telah menunjukkan penurunan, namun nilai AKI sendiri untuk Jawa Barat masih cukup tinggi.

Faktor yang paling mendasar mempengaruhi kematian ibu hamil , ibu melahirkan dikarenakan beberapa hal. Di antaranya tingkat pengetahuan dan pendidikan ibu yang rendah, keadaan lingkungan fisik dan budaya, keadaan ekonomi keluarga serta pola kerja dalam rumah tangga.

4. Rumah tangga, masyarakat

Lingkungan yang bersih dapat mencegah terjadinya berbagai penyakit diantaranya penyakit demam berdarah. Dalam 20 tahun terakhir, grafik angka kesakitan DBD masih menunjukkan peningkatan walaupun grafik angka kematian DBD semakin menunjukkan penurunan. Di Jawa Barat masih terdapat Kab/Kota dengan CFR tinggi (lebih dari 2 %).

Lingkungan dan pemukiman yang kumuh, padat dan status gizi yang kurang merupakan determinan dari penyakit TBC. Kegiatan penanggulangan TBC sampai saat ini masih belum optimal. Hal ini masih terlihat dari masih rendahnya cakupan penemuan kasus baru TBC BTA positif yang masih 35.70% pada tahun 2003 dan pada tahun 2004 sebesar 47,10 % dengan angka kesembuhan (tahun 2000) sebesar 679,7 % masih jauh dibawah target. Jumlah tenaga pelaksana program P2 TBC yang sudah dilatih strategi DOTS baru sekitar 53,13% untuk tenaga dokter, 60,89% untuk tenaga paramedis petugas program P2TBC dan 93,31% bagi tenaga laboratorium di tingkat PRM/PPM.

Lingkungan rawa-rawa di Jawa Barat seperti di daerah priangan timur serta daerah Jawa Barat selatan masih menjadi daerah reseptif/endemis malaria. Gangguan kesehatan lainnya yang disebabkan oleh vektor nyamuk adalah filariasis. Dalam 2 tahun terakhir penderita filariasis menunjukkan peningkatan.

Untuk bisa hidup sehat, rumah tangga dan masyarakat harus dapat mengakses air bersih dengan mudah. Persentase penduduk yang tidak memiliki akses bersih masih diatas 50% sedangkan persentase penduduk yang sudah memiliki kakus/jamban baru sebesar 52,31%.

Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan yang berakibat atau mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Kualitas lingkungan yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia di Jawa Barat berada dalam tingkat mengkhawatirkan, hal ini tentu saja akan berdampak buruk pada kesehatan. Beberapa aktivitas manusia mempengaruhi kualitas lingkungan :

(1) Pembakaran sampah menghasilkan banyak zat beracun antara lain dioksin dan hidrokarbon yang bersifat karsinogenik

(2) Peningkatan jumlah kendaraan bermotor setiap tahunnya membawa konsekuensi terjadinya peningkatan asap kendaraan bermotor yang menimbulkan peningkatan konsentrasi CO dan Pb di udara. Pembakaran bensin oleh kendaraan bermotor juga meningkatkan kadar dioksin. Lapisan ozon troposferik yang terbentuk karena proses fotokimia hidrokarbon, oksida nitrogen dan CO yang dihasilkan dalam pembakaran BBM serta oksigen berekasi membentuk ozon. Pada manusia, ozon ini dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru dan jaringan saluran pernafasan. Kenaikan kadar ozon troposferik memberikan kontribusi penting pada kenaikan prevalensi penyakit asma dan bronkhitis.

(3) Aktivitas sektor industri dan limbah domestik juga membawa akibat terjadinya pengotoran/pencemaran terhadap badan-badan air karena perilaku para pengelola industri /rumah tangga yang membuang air limbah ke dalam badan-badan air tersebut. Badan air yang menerima limbah cair tersebut mempunyai potensi untuk menyebabkan gangguan kesehatan berupa gangguan terhadap fungsi organ tubuh atau gangguan terhadap sistem proses biokimia, yang ditandai dengan kerusakan jaringan, kelainan fungsi organ dan gangguan terhadap sistem enzim dan endokrin.

(4) Pola penanaman padi terus-menerus yang menyebabkan selalu tersedianya genangan air sehingga siklus hidup nyamuk tidak pernah terputus.

(5) Fungsi pemanfaatan lahan pekarangan yang rapat dengan jenis tanaman tertentu kadang-kadang disukai vektor penyakit tertentu.

(6) Penggunaan pestisida yang berlebihan di daerah hulu daerah aliran sungai (DAS) akan mencemari air tanah dan terbawa sampai ke hilir. Jarak, arah angin, curah hujan, kemiringan lereng, gerakan air tanah, dan konsentrasi polutan industri sangat berpengaruh terhadap kesehatan penduduk di sekitar lokasi industri.

(7) Kondisi wilayah yang tidak mampu menyimpan kelebihan air di musim hujan menyebabkan dasar sungai mengering atau air tergenang secara lokal.

Upaya perbaikan lingkungan dan kesehatan lingkungan di Jawa Barat selama ini menunjukkan cukup banyak kemajuan dan dilakukan melalui peningkatan cakupan air bersih, penyehatan perumahan, peningkatan cakupan jamban keluarga, pengawasan dan penyehatan tempat pengelolaan makanan serta penyehatan tempat-tempat umum, ataupun program-program pengendalian lingkungan yang telah dilakukan oleh dinas/instansi terkait lainnya.

Namun untuk meningkatkan kondisi lingkungan / kesehatan lingkungan perlu dibuat suatu pengelolaan kesehatan lingkungan yang sinergis dengan melibatkan stakeholder terkait dengan tujuan agar dapat terciptanya kualitas kesehatan lingkungan fisik dan sosial yang bersih, nyaman, aman dan sehat.

Suatu pendekatan dalam kesehatan masayrakat yang berbasis lingkungan atau dikenal dengan An Ecological Base of Public Health akan melihat masalah kesehatan dari perspektif ekologi, melibatkan/bermitra dengan sektor lain dalam menjalankan ruang lingkup aktivitasnya serta berkolaborasi dalam menjalankan strateginya. Agar upaya sinergitas dan kemitraan ini optimal, maka diperlukan suatu tim atau komite penanggulangan penyakit menular berbasis lingkungan di setiap daerah dibawah koordinasi langsung kepala daerah serta mendapat dukungan politis dari pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota dalam bentuk produk hukum dan pembiayaan.

Terbentuknya tim atau komite tersebut merupakan hasil dari koordinasi dan kesamaan visi, misi, dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan lingkungan. Tim atau komite ini akan melakukan sinergitas dan kemitraan berdasarkan tahapan berikut :

1. Penjajagan

Untuk melakukan kemitraan, komite perlu melakukan penjajagan dengan mitra yang akan diajak kerja sama, bukan hanya satu mitra tetapi juga dengan mitra lainnya yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah lingkungan/kesehatan lingkungan yang dihadapi. Dalam tahapan penjajagan ini, diidentifikasi kelembagaan/mitra mana saja yang terkait dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan lingkungan. Proses identifikasi ini akan memunculkan individu, kelompok atau lembaga yang merupakan kumpulan kemitraan dari masing-masing stakeholder dan akan menggambarkan jejaring komunikasi dan informasi stakeholder pembangunan kesehatan lingkungan. Gambaran jejaring komunikasi dalam upaya koordinasi antar lembaga yang memiliki kepentingan yang sama (stakeholder) dalam pembangunan kesehatan lingkungan dapat dilihat dalam gambar 1.

Jejaring komunikasi antara masyarakat/lembaga masyarakat/ kelompok potensial, pemerintah dan instansi terkait, akan menghasilkan kelompok-kelompok baru seperti penghubung, spesialis, dan para pembaharu.

Lembaga yang terkait dalam simpul-simpul tersebut, memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut yang menyokong terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan lingkungan di daerah:

· Pemerintah memiliki fungsi untuk menyusun Garis Besar Program Pembangunan Kesehatan Lingkungan. Di dalamnya harus mencerminkan Visi, Misi, kebijakan, arah dan sasaran pembangunan, garis besar program, strategi pelaksanaan program pembangunan, kelembagaan/unit terkecil sasaran pembangunan kesehatan lingkunan , kelemahan daerah dan potensi daerah yang dimiliki yang mendukung pembangunan kesling.

· Lembaga/Dinas terkait yang memiliki peran strategis dalam bidang pembangunan tertentu yang di dalamnya menyangkut salah satu bagian dari sasaran pembangunan Kesling. Dinas-dinas/lembaga terkait dimaksud adalah Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, BKKBN, Dinas Sosial, Kepolisian, Dinas Tenaga Kerja dan Kependudukan, dan Kimpraswil.

Perbedaan kepentingan dan program yang dikembangkan setiap dinas/instansi terkait, harus didahului oleh adanya keinginan untuk mengembangkan dan memantapkan jaring komunikasi dan sinergi program antar lembaga.

Salah satu bentuk upaya ke arah itu adalah, penyusunan program antar instansi/lembaga terkait yang berpatokan pada visi dan misi daerah tentang pembangunan kesling yang telah dirumuskan.

· Mitra lainnya seperti ikatan profesi, pengusaha, perguruan tinggi, LSM, organisasi massa, media, dsb.

2. Penyamaan persepsi

Agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah lingkungan/kesehatan lingkungan yang dihadapi bersama, maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan, tugas dan fungsi serta peran masing-masing secara terbuka dan kekeluargaan.

3. Pengaturan peran

Peran masing-masing mitra di dalam menangani suatu masalah sangatlah penting untuk dipahami dan disepakati bersama. Lebih baik di dalam pengaturan peran ini dibuat secara tertulis dan jelas serta merupakan dokumen yang resmi.

Setelah teridentifkasi peran masing-masing mitra, dirumuskan juga tingkat keterlibatan masing-masing stakeholder dalam pelaksanaan program lingkungan sehat. Selanjutnya perlu dirumuskan model penanganan koordinatif dalam bentuk jejaring komunikasi dan interaksi pembangunan kesling serta bentuk rencana komunikasi untuk sosialisasi yang dapat dilakukan. Model penanganan koordinatif dapat dilihat pada bagan berikut

4. Komunikasi intensif

Komunikasi antar mitra kerja perlu dilakukan secara teratur dan terjadwal untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan, serta dapat secara langsung menyelesaiakan permasalahan yang dihadapi di lapangan.

5. Melakukan kegiatan

Kegiatan yang telah disepakati bersama, haruslah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis.

6. Pemantauan dan Penilaian

Sejak awal kegiatan ini juga harus disepakati bersama, yang mencakup cara memantau dan menilai terhadap kegiatan kemitraan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Apabila dipandang perlu dari hasil pemantauan dan penilaian tersebut dapat digunakan untuk menyempurnakan kesepakatan yang telah dibuat.

Upaya peningkatan lingkungan yang kondusif untuk hidup sehat hanya akan tercapai jika seluruh komponen, baik pemerintah, masyarakat, swasta, NGO, dan lembaga independen :

a. Mengetahui, memahami, merumuskan, dan mengimplementasikannya dalam bentuk program masing-masing sesuai dengan kondisi objektif daerah

b. Mensinergikan program masing-masing tersebut dengan berbagai mitra terkait baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan maupun monitoring dan evaluasi

c. Memberi prioritas pada faktor-faktor risiko yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap penurunan penyakit infeksi, seperti pedesaan, pemukiman kumuh, daerah tertinggal, lokasi rumah di daerah rawan banjir, dan bencana, kondisi fisik rumah, dan polusi udara. Selanjutnya sasaran perlu diprioritaskan pada kelompok masyarakat yang rentan seperti bayi, balita dan anak sekola, ibu hamil, melahirkan dan keluarga miskin.

d. Upaya yang kuat dari pihak lembaga di daerah untuk membangun Forum Komunikasi atau Kelompok Kerja pembangunan kesling memiliki kendala besar berupa rumitnya struktur birokrasi pemerintahan setempat dan adanya sistem disentralisasi.

e. Jejaring komunikasi antara masyarakat/lembaga masyarakat/ kelompok potensial, pemerintah dan instansi terkait, akan menghasilkan kelompok-kelompok baru seperti penghubung, spesialis, dan para pembaharu.

f. Diperlukan penyusunan dan pengembangan sistem informasi penyakit menular berbasis GIS.

6. 1. KESIMPULAN

Dari hasil kajian yang telah dilakukan dapat di tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Kondisi lingkungan hidup Jawa Barat berada dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan telah beralih fungsinya lahan berskala besar, hutan primer, sekunder dan sawah menjadi kawasan kebun campuran, tegalan atau ladang dan perkebunan di Jawa Barat Selatan. Peralihan fungsi lahan terjadi pula pada kawasan yang semula berupa persawahan menjadi kawasan pemukiman, industri dan kebun campuran, seperti yang terjadi di bagian utara terutama kawasan Bogor, Depok dan Bekasi (Bodebek), Kawasan Pantai Utara (Pantura), cekungan Bandung dan Cirebon. Dampak dari perubahan alih fungsi lahan di antaranya adalah terganggunya keseimbangan tata air dibeberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) di Jawa Barat. Kondisi tersebut diperparah dengan turunnya kualitas atmosfir, hidrosfir, litosfir dan biosfir karena pencemaran.

Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Interaksi antara lingkungan, manusia (host) dan bibit penyakit (agent) serta adanya pengaruh dari determinan kesehatan lainnya, dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penyakit pada manusia.

2. Berdasarkan hasil analisis terhadap program dan kegiatan, terindikasi beberapa program dan kegiatan yang dapat dikerjakan secara sinergis dengan melibatkan dinas/instansi yang terkait. Hasil analisis menunjukkan terdapat program dan kegiatan DIBALE memberikan kontribusi secara langsung dan tidak langsung terhadap pembangunan kesehatan lingkungan. Untuk kesinergisan program dan kegiatan tersebut, perlu meningkatkan koordinasi lintas program, lintas sektor, dan melibatkan mitra-mitra potensial lainnya.



DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. Survei Demografi dan Kesehatan 2002 – 2003. BPS. Jakarta: 2003.

BPS Propinsi Jawa Barat. Hasil Susenas 2003. BPS Jabar, Bandung: 2003.

BPS Propinsi Jawa Barat. Perilaku Hidup Sehat Masyarakat Jawa Barat Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Manajemen Kesehatan Perkotaan. Jakarta . Depkes RI : 2002.

Chordia Chu. The Ecological of Public Health. Grifith. Griffith University Pers: 1994.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Konsep Kesehatan Perkotaan. Jakarta. Depkes RI: 2002.

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Profil Kesehatan. Dinas Kesehatan Jabar, Bandung: 2003.

Direktorat Jenderal Departemen Dalam Negeri. Petunjuk Teknik Penyusunan ASIA dalam Rangka Pembangunan Sumber Daya Manusia Dini di Daerah. Unicef. Jakarta: 1998.

Detels and Bealeghole. Text of Public Health. Oxford: 2002

Balibangda dan BPS Propinsi Jabar, Penelitian AKI dan AKB di Jawa Barat tahun 2003. Balitbangda Propinsi Jabar dan BPS Propinsi Jabar. Bandung: 2003.

Wardhana. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : 1995

Soemirat. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta : 1994



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.